Migrasi frekuensi, Smartfren butuh Rp 9 triliun



JAKARTA. Meski proses kongsi dengan PT Bakrie Telecom Tbk pada frekuensi 800 megahertz (MHz) belum rampung, PT Smartfren Telecom Tbk sudah bersiap menata ulang frekuensinya. Perusahaan itu ingin memindahkan frekuensinya dari 1,9 gigahertz (GHz) ke 2,3 GHz.

Di frekuensi 2,3 GHz nanti, perusahaan itu ingin menggelar teknologi time division long term evolution (TDD-LTE). Lantas,  di frekuensi 800 MHz, Smartfren bakal memasang teknologi fixed division duplex LTE (FDD- LTE).

Meski batas waktu menuntaskan peralihan frekuensi itu hingga 2016, Smartfren berniat merampung rencana itu tahun depan. "Di frekuensi baru ini kami siap komersialisasi pertengahan tahun depan," ungkap Deputy Chief Executive Officer Commercial Smartfren Telecom Djoko Tata Ibrahim, Kamis (25/9).


Makanya, perusahaan berkode FREN di Bursa Efek Indonesia (BEI) itu kini tengah menggelar tender vendor penyedia perangkat di frekuensi 2,3 GHz. Ada empat vendor yang mengikuti tenderu, yakni Nokia, ZTE, Samsung, dan Huawei. Smartfren akan mengumumkan pemenang tender bulan depan.

Taksiran perusahaan yang diakuisi Sinarmas Group pada 2011 itu, pemindahan frekuensi dan penyediaan perangkat di frekuensi 2,3 GHz menyedot dana Rp 8 triliun–Rp 9 triliun. "Untuk pendanaannya, kami akan mencoba berbagi cara, yakni memakai dana obligasi wajib konversi (OWK) ataupun pinjaman bank," beber Djoko.

Sementara mengenai kelanjutan kongsi dengan Bakrie Telecom, keduanya bersepakat akan menyelesaikan proses penggabungan pada akhir tahun. Sebagai perusahaan yang sama-sama menjadi milik publik, keduanya masih harus meminta restu dari pemegang saham.

Namun, sampai saat ini rencana kedua perusahaan tak berubah. Keduanya sepakat, menempatkan Smartfren sebagai penyelenggara jaringan di frekuensi 800 MHz sedangkan Bakrie Telecom menjadi penyelenggara jasa dengan menyewa frekuensi itu, atau skema mobile virtual network operator (MVNO).

Dengan skema MVNO itu, lisensi penyelenggara jaringan milik Bakrie Telecom akan dicabut. Lantas, pita frekuensi perusahaan berkode BTEL di BEI itu akan menjadi milik Smartfren. 

Dus, Smartfren akan memiliki 10 Mhz pita yang sangat maksimal untuk menggelar teknologi LTE. "Nanti tentunya BHP (biaya hak penggunaan) frekuensi itu kami yang bayar," ujar Djoko.

Sementara mengenai kompensasi ke pelanggan, Djoko bilang hal itu akan dibereskan masing-masing perusahaan. Sayangnya, dia belum mau bercerita banyak soal ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anastasia Lilin Yuliantina