Militer AS Selesaikan Gelombang Serangan Terbaru ke Iran



KONTAN.CO.ID - Militer Amerika Serikat (AS) menyatakan telah menyelesaikan gelombang serangan terbaru terhadap Iran pada Selasa (1/9/2026) waktu setempat.

Serangan tersebut menyasar sejumlah target Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di tengah eskalasi perang yang kembali meningkat.

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan, pasukan AS menyerang sejumlah target IRGC, termasuk fasilitas pertahanan udara, sistem radar, aset maritim, fasilitas peletakan ranjau, serta fasilitas komunikasi.


Baca Juga: Gaji John Ternus Jadi CEO Apple Capai Rp1 Triliun, Ini Rinciannya

"Target yang diserang mencakup situs pertahanan udara, sistem radar, aset maritim dan fasilitas, kemampuan peletakan ranjau, serta situs komunikasi," kata CENTCOM melalui akun X.

Laporan Axios yang mengutip pejabat AS menyebutkan bahwa militer AS juga menyerang dua kapal tanker milik pemerintah Iran dalam serangan pada Selasa.

Iran kemudian melakukan serangan balasan terhadap rentetan serangan AS tersebut. Pertukaran serangan ini menjadi eskalasi paling serius dalam beberapa pekan terakhir dalam konflik yang telah mendorong kenaikan harga energi global.

Serangan terbaru terjadi setelah pertukaran tembakan pada akhir pekan, yang merupakan bentrokan pertama sejak akhir Juli. Eskalasi juga berlangsung setelah dua kapal tanker yang meninggalkan Selat Hormuz diserang pada Senin.

Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan minyak global. Iran secara efektif telah menutup jalur tersebut bagi pelayaran, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi dunia.

Teheran kemudian membalas dengan menyerang aset-aset AS di Yordania, Bahrain dan Irak.

Baca Juga: Kapal Induk AS Abraham Lincoln Singgah di Thailand, Pattaya Berharap Cuan

Korban Sipil Berjatuhan

Eskalasi konflik juga menimbulkan korban sipil. Bulan Sabit Merah Iran melaporkan lima orang tewas dan 50 lainnya terluka dalam sebuah pesta pernikahan di dekat Sirik, wilayah pesisir di sekitar Selat Hormuz.

Kantor berita Mehr melaporkan seorang anak berusia empat tahun termasuk di antara korban tewas. Sementara itu, kantor berita IRNA yang mengutip pejabat pemerintah daerah menyebut jumlah korban luka mencapai 68 orang.

AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan ke Israel dan sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.

Serangkaian serangan AS-Israel terhadap Iran serta serangan Israel ke Lebanon telah menewaskan ribuan orang dan menyebabkan jutaan orang mengungsi.

Di tengah meningkatnya ketegangan, perhatian pasar juga tertuju pada arus minyak melalui Selat Hormuz.

Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan sekitar 17 juta barel minyak melewati Selat Hormuz pada Senin.

Menurutnya, volume tersebut merupakan yang tertinggi sejak perang menyebabkan penurunan arus minyak melalui jalur strategis tersebut.

Baca Juga: CEO Baru Apple John Ternus, Ini Kiprah dan Produk yang Pernah Ditanganinya

Trump: Tak Memaksa Iran Berunding

Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya tidak berupaya memaksa Iran kembali ke meja perundingan.

"Saya tidak berusaha memaksa Iran ke meja perundingan," tulis Trump melalui media sosial pada Selasa.

Dalam unggahannya, Trump juga mempertanyakan kapan rakyat Iran akan bangkit dan melakukan perlawanan.

"When are the Iranian people going to rise up and fight?" tulis Trump.