KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Tujuh puluh lima tahun lalu, gagasan memanfaatkan kekuatan langit masih sebatas fantasi fiksi ilmiah yang dibayangkan para futuris seperti Arthur C. Clarke dan Isaac Asimov. Namun, langkah Elon Musk menggabungkan perusahaan kecerdasan buatannya, xAI, dengan SpaceX pekan ini membawa mimpi tersebut selangkah lebih dekat ke kenyataan. Selama hampir dua dekade, para insinyur dan teknolog NASA telah berspekulasi mengenai kemungkinan memindahkan komputasi berdaya tinggi ke luar Bumi. Dalam beberapa tahun terakhir, ide tersebut juga menarik perhatian perusahaan teknologi besar seperti Alphabet serta Blue Origin milik Jeff Bezos. Secara fisika, konsep ini masuk akal karena energi matahari di luar angkasa sangat melimpah. Namun, tantangan teknisnya selama ini dianggap terlalu besar untuk diwujudkan. Musk, yang dikenal kerap mengambil taruhan pada gagasan-gagasan ekstrem dan berhasil merealisasikannya, kini dinilai tengah meletakkan fondasi bagi pusat data di antariksa. Ia didukung oleh armada peluncuran satelit tersibuk di dunia, sebuah perusahaan rintisan AI, serta ambisi membangun infrastruktur yang membentang dari Bumi hingga ruang hampa.
Baca Juga: SpaceX Akuisisi xAI Milik Elon Musk, IPO Raksasa Berpotensi Pecahkan Rekor Dunia “Dalam jangka panjang, AI berbasis luar angkasa jelas merupakan satu-satunya cara untuk melakukan skala besar,” kata Musk pada Senin. Ia menambahkan bahwa untuk memanfaatkan bahkan sepersejuta energi Matahari saja dibutuhkan energi jutaan kali lebih besar dari yang saat ini digunakan peradaban manusia. “Solusi logisnya adalah memindahkan upaya yang sangat intensif sumber daya ini ke lokasi dengan ruang dan daya yang sangat luas,” ujarnya. Merger ini membuat investor menyoroti bagaimana Musk berupaya mengatasi hambatan besar melalui ekosistem terintegrasi yang mencakup roket, satelit, dan sistem AI, guna membawa infrastruktur AI melampaui Bumi. Langkah tersebut muncul saat SpaceX bersiap menuju potensi penawaran saham perdana (IPO) dengan valuasi yang diperkirakan mencapai US$1,5 triliun. SpaceX sendiri telah mengajukan izin untuk meluncurkan hingga 1 juta satelit bertenaga surya yang dirancang sebagai pusat data orbital—jumlah yang jauh melampaui sistem apa pun yang saat ini ada atau direncanakan. Dalam dokumen ke Komisi Komunikasi Federal AS (FCC), SpaceX menggambarkan sistem pusat data orbital bertenaga surya dengan koneksi optik, meski belum merinci jumlah peluncuran Starship yang dibutuhkan agar jaringan tersebut dapat beroperasi penuh. “Komputasi di luar angkasa bukan lagi fiksi ilmiah,” kata David Ariosto, penulis dan pendiri firma intelijen antariksa The Space Agency. “Dan Elon Musk telah membuktikan kemampuannya di berbagai bidang.”
Ide Lama, Ekonomi Baru
Pendukung konsep ini berpendapat bahwa pusat data di antariksa bisa lebih murah dibandingkan di Bumi, berkat pasokan energi matahari yang konstan serta kemampuan membuang panas langsung ke ruang angkasa. Namun, sejumlah pakar memperingatkan bahwa keuntungan komersial besar masih bertahun-tahun lagi karena tantangan teknis yang berat, mulai dari radiasi, puing antariksa, pengelolaan panas, latensi, hingga persoalan ekonomi dan biaya pemeliharaan yang tinggi. “Ada tantangan nyata di sini, dan pertanyaannya adalah bagaimana membuatnya menjadi hemat biaya,” kata Armand Musey, pendiri Summit Ridge Group. Ia menilai detail finansial proyek semacam ini sulit dimodelkan karena banyak ketidakpastian teknis yang belum terjawab. Meski demikian, Musey menegaskan rekam jejak Musk sulit diabaikan. “Sebagian besar ini adalah taruhan pada Elon. Keberhasilannya benar-benar luar biasa,” ujarnya.
Baca Juga: Elonk Musk Sebut SpaceX Berhasil Cegah Militer Rusia Akses Jaringan Starlink Beberapa ahli memperkirakan pusat data di luar angkasa baru bisa terwujud dalam satu dekade mendatang, bahkan dengan ambisi Musk. Secara konsep, infrastruktur berbasis antariksa bukanlah hal baru. Penelitian pemanfaatan energi matahari di orbit telah dilakukan sejak era Perang Dingin, ketika Departemen Energi AS dan NASA mempelajari konsep tersebut pada 1970-an. Saat itu, biaya peluncuran dan material dinilai terlalu mahal sehingga tidak layak secara ekonomi. Yang membedakan upaya Musk adalah kendali langsung perusahaannya atas elemen-elemen kunci sistem, mulai dari roket peluncur, jaringan transmisi data kembali ke Bumi, hingga platform media sosial miliknya yang dapat menciptakan permintaan akan komputasi AI murah. “SpaceX memiliki keunggulan struktural yang sulit ditandingi. Mereka mengendalikan armada peluncuran paling aktif di dunia, telah menunjukkan kemampuan produksi massal wahana antariksa melalui Starlink, dan memiliki akses ke modal swasta yang besar,” kata Kathleen Curlee, analis riset di Georgetown University. Tantangan Radiasi dan Pendinginan Salah satu tantangan terbesar pusat data di antariksa adalah radiasi dan sistem pendinginan. Perangkat keras pusat data akan terus dibombardir radiasi kosmik dari Matahari. Selama ini, chip untuk misi luar angkasa dirancang khusus agar tahan radiasi, namun performanya jauh di bawah chip AI mutakhir saat ini. Pendinginan chip AI juga menjadi masalah besar. Meski ruang angkasa dingin, kondisi hampa udara membuat panas tidak bisa dibuang seperti di Bumi. Panas harus dialirkan ke radiator besar yang memancarkannya sebagai energi inframerah, sehingga menambah ukuran, berat, dan biaya. Dalam pengajuan ke FCC, SpaceX menjelaskan sistem pendinginan melalui “disipasi panas pasif ke dalam ruang hampa antariksa” serta mekanisme agar satelit yang mengalami kegagalan operasional dapat segera keluar dari orbit.
Sementara itu, Alphabet melalui Google telah menguji ketahanan salah satu chip AI-nya dengan membombardirnya radiasi di laboratorium universitas di California. Uji coba ini dilakukan untuk menilai ketahanan chip selama misi lima hingga enam tahun di luar angkasa, sebagai bagian dari proyek penelitian jaringan satelit bertenaga surya bernama Project Suncatcher. “Hasilnya cukup baik,” kata Travis Beals, eksekutif senior Google dan pimpinan proyek tersebut, yang dijadwalkan meluncurkan prototipe ke luar angkasa pada 2027.