KONTAN.CO.ID - Daftar menteri pilihan pemimpin junta sekaligus presiden Myanmar, Min Aung Hlaing, resmi disetujui parlemen pada Kamis (9/4/2026). Mengutip
Reuters, sebanyak 30 menteri ditunjuk untuk mengisi kabinet. Komposisi ini menunjukkan bahwa militer masih memegang peran dominan dalam pemerintahan. Langkah ini terjadi setelah kemenangan kontroversial partai pro-militer dalam pemilu terbaru, meskipun sebelumnya dijanjikan transisi menuju pemerintahan sipil.
Baca Juga: To Lam Jadi Presiden Vietnam, Mantan Gubernur Bank Sentral Terpilih Jadi PM Dominasi Militer Masih Kuat
Sebagian besar menteri yang ditunjuk Min Aung Hlaing merupakan purnawirawan militer atau pejabat lama yang sebelumnya sudah berada dalam lingkaran kekuasaan junta. Menteri Pertahanan sebelumnya, Jenderal Maung Maung Aye, pensiun dan digantikan oleh Jenderal Tun Aung yang sebelumnya menjabat sebagai kepala angkatan udara. Sementara itu, posisi Menteri Urusan Perbatasan kini dipegang oleh Letnan Jenderal Hpone Myat, menggantikan Letnan Jenderal Yar Pyae. Untuk sektor diplomasi, mantan duta besar untuk China, Tin Maung Swe, ditunjuk sebagai Menteri Luar Negeri. Ia juga diketahui pernah bertugas sebagai atase militer di Inggris. Mantan menteri pertahanan yang sudah lama menjadi bagian dari junta, seperti Mya Tun Oo dan Tin Aung San, kembali dipercaya mengisi posisi penting. Tak hanya itu, presiden juga menunjuk pejabat lama untuk memimpin 14 kementerian lainnya.
Baca Juga: Pilpres Peru: Keiko Fujimori Pimpin Survei, Putaran Kedua Hampir Pasti Terpilihnya Min Aung Hlaing Tidak Demokratis
Min Aung Hlaing resmi terpilih sebagai presiden Myanmar setelah memenangkan pemungutan suara di parlemen. Pemilu yang digelar pada Desember hingga Januari dimenangkan secara telak oleh partai yang didukung militer, namun banyak dikritik sebagai upaya mempertahankan kekuasaan militer dengan kedok demokrasi. Dalam pemungutan suara parlemen, Min Aung Hlaing meraih 429 suara, jauh mengungguli pesaingnya, Nyo Saw, yang memperoleh 126 suara. Dukungan datang dari anggota parlemen partai pro-militer serta perwakilan militer yang memiliki jatah kursi khusus. Kenaikan Min Aung Hlaing ke kursi presiden juga terjadi setelah perombakan besar di tubuh militer. Ia menunjuk Ye Win Oo, mantan kepala intelijen yang dikenal loyal, sebagai penggantinya memimpin angkatan bersenjata.
Analis menilai langkah ini sebagai strategi untuk memperkuat kekuasaan dalam balutan pemerintahan sipil, sekaligus mencari legitimasi internasional. Namun, pada praktiknya, militer tetap menjadi aktor utama yang mengendalikan arah politik Myanmar.
Baca Juga: 10 Orang Terkaya di Dunia April 2026: Elon Musk Memimpin dengan Rp13.700 Triliun Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News