KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Minat investor terhadap penawaran saham perdana (IPO) SpaceX melonjak tajam. Perusahaan antariksa milik Elon Musk itu dilaporkan telah menerima permintaan investasi senilai lebih dari US$250 miliar, jauh melampaui target penghimpunan dana sebesar US$75 miliar. Berdasarkan informasi dari sejumlah sumber yang mengetahui proses tersebut, tingkat kelebihan permintaan (oversubscription) IPO SpaceX kini mencapai sekitar 3,5 hingga 4 kali lipat dari nilai penawaran yang direncanakan. Kondisi ini menjadi sinyal kuat bahwa antusiasme investor terhadap perusahaan tersebut masih sangat tinggi. Sejumlah dana investasi jangka panjang (long-only funds) juga disebut telah mengajukan pemesanan dalam jumlah besar. Bahkan, Elon Musk dikabarkan sempat bergabung dalam beberapa pertemuan virtual melalui Zoom dengan calon investor potensial untuk mempromosikan penawaran saham tersebut.
Hingga saat ini, SpaceX masih berada dalam tahap pemasaran (roadshow) menjelang penentuan harga IPO yang diperkirakan berlangsung pada Kamis sore waktu setempat.
Baca Juga: Dianggap Bantu Militer China, AS Masukkan Perusahaan Ini Dalam Daftar Khusus Pada Selasa, Presiden SpaceX Gwynne Shotwell bersama Kepala Keuangan Bret Johnsen dijadwalkan menghadiri jamuan makan siang di kantor Morgan Stanley di Manhattan, New York, yang dihadiri sekitar 300 investor institusi. Acara tersebut dipandu oleh Co-President Morgan Stanley, Dan Simkowitz. Meski demikian, besarnya permintaan investor masih dapat berubah sebelum harga final IPO ditetapkan. Angka pemesanan saat ini masih berupa indikasi minat dan belum mencerminkan alokasi saham akhir. Sumber yang mengetahui proses tersebut juga mengungkapkan bahwa beberapa investor institusional besar umumnya baru mengajukan pesanan pada tahap akhir proses IPO. Mereka meminta identitasnya dirahasiakan karena informasi tersebut bersifat rahasia. SpaceX sendiri belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan tersebut.
Baca Juga: Penjualan Mobil Domestik China Merosot 20,4% Tahun Ini, Kini Bergantung pada Ekspor IPO Hadir di Tengah Gejolak Pasar
Penawaran saham SpaceX berlangsung di tengah kondisi pasar keuangan yang bergejolak. Indeks Nasdaq Composite diperdagangkan melemah pada Selasa setelah mencatat penurunan harian terdalam dalam lebih dari satu tahun pada Jumat sebelumnya. Di sisi lain, harga Bitcoin juga turun sekitar 2,8% pada Selasa sehingga berada sekitar 37% di bawah posisi puncaknya pada Januari lalu. Sejumlah analis berspekulasi bahwa salah satu faktor yang turut memicu pelemahan pasar adalah aksi jual aset oleh investor yang ingin mengumpulkan dana guna berpartisipasi dalam IPO SpaceX.
Andalkan Bisnis Peluncuran Roket dan Starlink
Dalam materi presentasi roadshow dan dokumen IPO, SpaceX menekankan posisi unik bisnis peluncuran roketnya. Perusahaan menyebut telah menyumbang sebagian besar total massa yang dikirim ke orbit selama tiga tahun terakhir. Selain itu, kekuatan bisnis internet satelit Starlink juga menjadi salah satu daya tarik utama yang ditawarkan kepada investor.
Baca Juga: China-Taiwan Bersitegang, Patroli Laut Picu Sengketa Kedaulatan SpaceX bahkan mengklaim terdapat peluang pasar senilai US$23 triliun bagi bisnis kecerdasan buatan (AI) yang tengah dikembangkannya. Perusahaan menyatakan memiliki keunggulan karena mampu memanfaatkan ruang angkasa untuk membangun kapasitas komputasi AI dalam skala besar. Menurut SpaceX, pertumbuhan kapasitas pembangkit listrik dan komputasi di Amerika Serikat tertinggal dibandingkan China akibat berbagai hambatan pembangunan proyek berskala besar di dalam negeri. Sebagai solusi, perusahaan menilai pembangunan pusat data (data center) dan infrastruktur digital lainnya di luar angkasa menggunakan layanan peluncuran SpaceX dapat menjadi alternatif untuk mengatasi keterbatasan tersebut. Dalam dokumen resminya, SpaceX menyatakan: "Dengan secara drastis menurunkan biaya akses ke luar angkasa, kami mampu memperluas misi untuk menjawab sejumlah tantangan paling mendesak di Bumi, termasuk menjembatani kesenjangan digital dengan menargetkan konektivitas internet bagi lebih dari tiga miliar orang yang hingga kini belum terhubung ke internet maupun pengetahuan kolektif umat manusia."