Minat Lelang Sukuk Meningkat, Yield SUN Bergerak Bervariasi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Permintaan investor terhadap Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk pemerintah meningkat dalam lelang yang digelar Selasa (3/11/2026). Namun, minat investor masih didominasi instrumen bertenor pendek di tengah pergerakan imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) yang bervariasi di pasar sekunder.

Economist & Fixed Income Analyst MNC Sekuritas Ridwan Adi Gunawan mengatakan, total penawaran yang masuk dalam lelang sukuk mencapai Rp 28,56 triliun. Jumlah tersebut meningkat 25,5% dibandingkan lelang sebelumnya yang mencatatkan penawaran sebesar Rp 22,76 triliun.

"Permintaan secara keseluruhan menunjukkan perbaikan, tetapi minat investor masih terkonsentrasi pada tenor pendek, sementara sukuk bertenor panjang tetap mendapatkan minat yang lebih selektif," tulis Ridwan dalam risetnya, Rabu (4/11/2026).


Baca Juga: Demokrat Kuasai DPR AS, Investor Waspadai Regulasi AI dan Risiko Fiskal

Dari total penawaran yang masuk, pemerintah menyerap dana sebesar Rp 16,65 triliun, melampaui target indikatif yang ditetapkan sebesar Rp 10 triliun. Adapun rasio penawaran terhadap jumlah yang dimenangkan atau bid-to-cover ratio tercatat sebesar 1,71 kali.

Permintaan investor masih terkonsentrasi pada seri SPNS dengan total penawaran mencapai Rp 21,04 triliun. Pemerintah memenangkan sebesar Rp 12 triliun dari seri tersebut, dengan imbal hasil rata-rata tertimbang berada di kisaran 6,30% hingga 6,70%.

Sementara itu, seri PBS040 mencatatkan penawaran masuk tertinggi di antara seri PBS, yakni sebesar Rp 2,47 triliun. Pemerintah menyerap Rp 1,95 triliun dari seri tersebut dengan imbal hasil rata-rata tertimbang sebesar 7,55%, naik 39 basis poin dibandingkan lelang sebelumnya.

Di pasar sekunder, imbal hasil obligasi pemerintah bergerak bervariasi. Secara umum, yield pada sebagian besar tenor tercatat turun sekitar 2 hingga 4 basis poin. Yield SUN bertenor 5 tahun turun 2,7 basis poin menjadi 7,56%. Sebaliknya, yield tenor 10 tahun naik tipis 1 basis poin ke level 7,72%.

Ridwan bilang, pergerakan yield di pasar sekunder menunjukkan penurunan pada sebagian besar tenor, meskipun imbal hasil SUN bertenor 10 tahun masih mengalami kenaikan tipis.

"Yield dalam perdagangan outright sebagian besar turun sekitar 2 hingga 4 basis poin di berbagai tenor. Yield tenor 5 tahun turun 2,7 basis poin menjadi 7,56%, sementara tenor 10 tahun naik 1 basis poin menjadi 7,72%," ujarnya.

Baca Juga: Rupiah Menguat Tipis Pagi Ini, Bagaimana Pergerakan Mata Uang Asia Lainnya?

Dari sisi nilai transaksi, perdagangan obligasi didominasi seri FR0110 sebesar Rp 1,57 triliun. Posisi berikutnya ditempati PBS003 dengan nilai transaksi Rp 1,42 triliun dan FR0109 sebesar Rp 1,39 triliun. Adapun berdasarkan frekuensi transaksi, seri PBS030, FR0111, FR0102, FR0110, dan PBS003 menjadi seri yang paling aktif diperdagangkan.

Dari pasar global, imbal hasil US Treasury (UST) tenor 10 tahun naik 4 basis poin menjadi 4,95%, sedangkan tenor 2 tahun meningkat 2 basis poin ke level 4,61%. Kenaikan yield tersebut terjadi setelah data lowongan pekerjaan Amerika Serikat pada September 2026 tercatat lebih tinggi dari perkiraan pasar.

Menilik perkembangan pasar global dan domestik tersebut, Ridwan memperkirakan imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia bertenor 10 tahun akan bergerak pada kisaran 7,60% hingga 7,75% pada perdagangan Rabu (4/11/2026). 

Adapun seri obligasi pemerintah yang menarik untuk diperdagangkan meliputi PBS003, FR0064, FR0104, FR0087, dan FR0096.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News