Minat Minum Alkohol Turun, Klub Malam di London Dipaksa Lebih Kreatif



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Industri hiburan malam di London menghadapi tekanan besar akibat menurunnya minat terhadap aktivitas minum larut malam serta meningkatnya biaya operasional. Kondisi ini memaksa pengelola klub malam untuk beradaptasi dan berinovasi agar tetap bertahan.

Generasi muda kini tidak lagi sekadar mencari akses minuman beralkohol, tetapi menginginkan pengalaman hiburan yang lebih beragam. Hal ini mendorong banyak klub untuk menghadirkan konsep baru, seperti pesta siang hari, pertunjukan musik live, hingga pengalaman berbasis event.

Data dari CGA Night Time Economy Market Monitor menunjukkan sektor hiburan malam di Inggris menghasilkan sekitar 154 miliar pound sterling (sekitar US$206 miliar) pada tahun lalu.


Namun, industri ini telah mengalami tekanan selama beberapa tahun terakhir akibat perubahan gaya hidup, dampak pandemi COVID-19, kenaikan biaya operasional, regulasi yang lebih ketat, serta meningkatnya biaya hidup masyarakat.

Baca Juga: Kilang China Borong Minyak Iran dengan Harga Premium, Tren Harga Global Berubah

Jumlah venue hiburan malam bahkan tercatat turun 4,1% sepanjang 2025 dan kini berada 28% di bawah level sebelum pandemi.

Perubahan Perilaku Konsumen

Alex Guiste, seorang pekerja media sosial berusia 27 tahun sekaligus pengunjung klub, menilai bahwa banyak klub terasa monoton jika tidak mampu beradaptasi dengan permintaan pengalaman baru, seperti penampilan DJ dan pertunjukan langsung.

“Orang sekarang pergi keluar untuk musik dan pengalaman, bukan lagi sekadar minum hingga larut malam,” ujarnya. “Clubbing kini terasa lebih seperti sesuatu yang dinikmati, bukan rutinitas.”

Perubahan ini juga terlihat dari menurunnya konsumsi alkohol di kalangan muda. Survei menunjukkan sekitar 39% kelompok usia 18–24 tahun tidak mengonsumsi alkohol, yang berdampak langsung pada model bisnis klub yang selama ini bergantung pada penjualan minuman.

Biaya Naik, Pendapatan Menurun

Meski antrean panjang masih terlihat di sejumlah klub di pusat London, operator mengaku kondisi bisnis semakin sulit. Pendapatan dari bar menurun signifikan, sementara biaya operasional terus meningkat.

Salah satu contoh adalah Corsica Studios, venue musik elektronik yang telah beroperasi lebih dari dua dekade. Tempat ini resmi tutup pada akhir Maret setelah menghadapi tekanan finansial yang berkepanjangan.

Manajemen mengungkapkan bahwa meskipun jumlah pengunjung tetap tinggi, pendapatan dari penjualan minuman turun drastis—dari sebelumnya £10.000–£12.000 per malam menjadi hanya sekitar £6.000–£7.000.

Baca Juga: Jepang Lepas Cadangan Minyak Tambahan 20 Hari, Antisipasi Krisis Energi Dalam Negeri

Pihak pengelola menyatakan bahwa model bisnis saat ini tidak lagi berkelanjutan, meskipun ada rencana untuk membuka kembali dengan konsep baru di masa depan.

Industri Bertransformasi

Pelaku industri menilai bahwa kehidupan malam di Inggris tidak benar-benar meredup, melainkan sedang berevolusi. Aktivitas hiburan kini bergeser ke waktu yang lebih awal, lokasi yang berbeda, dan format yang lebih beragam.

Beberapa venue besar bahkan justru berekspansi dalam dua tahun terakhir, dengan keyakinan bahwa permintaan tetap ada selama mampu memenuhi ekspektasi baru konsumen.

Ketua organisasi industri UKHospitality, Kate Nicholls, menyatakan bahwa meskipun konsumsi alkohol menurun, minat masyarakat untuk bersosialisasi tetap kuat. Banyak orang kini lebih mengutamakan pengalaman dibanding sekadar minum.

“Bukan berarti orang berhenti pergi keluar,” kata Guiste. 

“Hanya saja, model klub lama tidak lagi terasa istimewa.” tambahnya.