KONTAN.CO.ID - Mayoritas bursa saham dan mata uang di kawasan Asia menguat pada perdagangan Rabu (5/8/2026), didorong meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko setelah muncul harapan meredanya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Mengutip
Reuters, indeks MSCI Emerging Markets Asia naik sekitar 3% ke level tertinggi dalam dua pekan. Sementara itu, indeks mata uang negara berkembang Asia menguat 0,4% dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa.
Baca Juga: EPL Jadi Mesin Ekonomi Inggris, Diproyeksikan Sumbang Rp796 Triliun hingga 2028 Sentimen positif juga didukung oleh stabilnya harga minyak mentah setelah turun selama dua hari berturut-turut. Optimisme pasar muncul seiring harapan tercapainya gencatan senjata di Timur Tengah dan kemajuan pembahasan pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis bagi perdagangan minyak dunia. "Secara keseluruhan, pasar berupaya melihat prospek akhir konflik, bukan hanya potensi memanasnya kembali ketegangan, dan pendekatan itu mungkin memang tepat," ujar analis mata uang senior MUFG, Michael Wan. Menurut Wan, harga minyak tetap relatif terkendali meski muncul gangguan pasokan. Salah satu penyebabnya adalah penurunan impor minyak China yang lebih besar dari perkiraan sehingga membantu menjaga keseimbangan pasar.
Baca Juga: Telegram Sempat Hilang dari App Store, Ini Penjelasan Apple dan Durov Di kawasan Asia, indeks Kospi Korea Selatan melonjak hingga 5%, dipimpin oleh kenaikan saham produsen chip seperti Samsung Electronics dan SK Hynix setelah reli saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI) di Wall Street. Indeks saham Taiwan yang didominasi emiten teknologi juga menguat 3,4%. Sementara itu, bursa Malaysia naik hingga 1% ke level tertinggi sejak pertengahan Mei dan berpeluang mencatat kenaikan selama enam sesi berturut-turut. Bursa Thailand sempat menguat hingga 0,8% sebelum memangkas sebagian kenaikannya. Inflasi Thailand pada Juli tercatat lebih rendah dari ekspektasi, dipengaruhi turunnya harga minyak. Berbeda dengan mayoritas bursa Asia, indeks FTSE Straits Times Singapura melemah hingga 0,8% ke level terendah dalam lebih dari sepekan. Indeks tersebut berpotensi mencatat penurunan untuk lima sesi berturut-turut setelah sebelumnya menyentuh rekor tertinggi pada 29 Juli. Di pasar valuta asing, won Korea Selatan, dolar Taiwan, dan peso Filipina menguat terhadap dolar AS. Ketiga mata uang tersebut dinilai sensitif terhadap pergerakan harga energi.
Baca Juga: HSBC Terbitkan Obligasi Dolar AS Tiga Seri untuk Danai Buyback Utang US$ 5 Miliar Sementara itu, rupiah kembali menguat ke bawah level psikologis Rp 18.000 per dolar AS dan terakhir diperdagangkan di kisaran Rp 17.935 per dolar AS. Adapun ringgit Malaysia dan dolar Singapura bergerak relatif stabil. Di India, rupee memangkas sebagian penguatannya setelah Reserve Bank of India (RBI) mempertahankan suku bunga acuan sesuai ekspektasi pasar. Bank sentral memilih menunggu data terbaru untuk menilai apakah kenaikan harga minyak akan meningkatkan tekanan inflasi domestik. Rupee terakhir diperdagangkan di level 95,03 per dolar AS.