MIND ID Siap Jika Harus Berinvestasi di Proyek Smelter Vale Indonesia (INCO)



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Holding industri pertambangan, MIND ID menyatakan siap jika diminta untuk menanamkan investasi pada proyek smelter yang tengah digarap PT Vale Indonesia Tbk (INCO).

Direktur Portofolio dan Pengembangan Usaha MIND ID Dilo Seno Widagdo mengungkapan, sebagai salah satu pemegang saham INCO, MIND ID merasa pihaknya juga bisa saja ikut serta dalam proses investasi proyek yang ada.

Sayangnya, sampai saat ini Dilo mengakui kalau belum ada diskusi dengan Vale Indonesia untuk pembahasan investasi tersebut. Pihaknya siap jika kemudian diminta menanamkan investasi.


"Panggil kita sebagai pemegang saham untuk investasi di Vale, kenapa kita pemegang saham gak pernah dimintai untuk investasi. MIND ID ini kan pemegang saham, kalau mereka mau investasi kan (kita) harus investasi," terang Dilo.

Baca Juga: MIND ID Siap Caplok 20% Saham Vale Indonesia (INCO), Valuasi Hingga US$ 1,2 Miliar

Asal tahu saja, Vale Indonesia dan Zhejiang Huayou Cobalt Co. (Huayou) China menjalin kesepakatan dengan produsen mobil global Ford Motor Co untuk menciptakan kolaborasi tiga pihak.

Upaya ini dilakukan untuk memajukan produksi nikel berkelanjutan dan membantu pengembangan baterai kendaraan listrik (EV) lebih terjangkau.

Ketiga perusahaan tersebut melakukan penyertaan modal di Proyek High-Pressure Acid Leach (HPAL) Blok Pomalaa melalui kesepakatan definitif pada Kamis (30/3).

Adapun, proyek HPAL Blok Pomalaa akan mengolah bijih yang dipasok oleh Vale Indonesia dari tambang Blok Pomalaa untuk menghasilkan nikel dalam bentuk mixed hydroxide precipitate (MHP).

MHP merupakan produk nikel berbiaya rendah yang digunakan dalam baterai EV dengan katoda yang kaya akan nikel.

Pabrik HPAL ini akan beroperasi di bawah naungan PT Kolaka Nickel Indonesia di Blok Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara dan  dapat menghasilkan hingga 120 kiloton MHP per tahun.

Baca Juga: MIND ID Mengebut Sejumlah Proyek Hilirisasi Anak Usaha

Persiapan lokasi awal Proyek HPAL Blok Pomalaa telah dimulai, dan konstruksi penuh diharapkan dapat dimulai tahun ini. Ditargetkan operasi komersial dimulai pada 2026.

Selain itu,  PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dan PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI) melakukan groundbreaking pembangunan proyek pertambangan dan pengolahan nikel rendah karbon terintegrasi  pada Jumat (10/2).

Lokasi pertambangan berada di Kecamatan Bungku Timur dan Bahodopi serta lokasi pabrik pengolahan yang berada di Desa Sambalagi, Kecamatan Bungku Pesisir. Alokasi total biaya investasi untuk proyek tersebut mencapai Rp 37,5 triliun dengan kapasitas produksi mencapai 73 ribu ton per tahun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Handoyo .