Minyak Brent Naik 7,6% Sepekan, Harga Diesel AS Cetak Rekor US$ 5,85



KONTAN.CO.ID - HOUSTON. Harga minyak mentah naik pada perdagangan Jumat (4/9) dan mencatat kenaikan signifikan sepanjang pekan setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali terlibat dalam pertukaran serangan militer pada bulan ketujuh konflik. Di saat yang sama, harga diesel ritel di AS menembus rekor tertinggi.

Harga minyak mentah Brent ditutup naik 76 sen atau 0,8% menjadi US$ 96,28 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 18 sen atau 0,2% menjadi US$ 91,48 per barel.

Dalam sepekan, harga Brent melonjak 7,6%, sedangkan WTI naik hampir 10%. Kenaikan tersebut terjadi ketika jalur pasokan energi di Timur Tengah masih terganggu akibat perang.


Baca Juga: AS Serang Tiga Tanker Minyak Iran, Konflik Energi Timur Tengah Kian Memanas

Lonjakan harga minyak, ditambah kenaikan harga bahan bakar yang jauh lebih tajam, mulai meningkatkan tekanan inflasi dan biaya pinjaman pemerintah di berbagai negara. Kondisi tersebut juga memperbesar kekhawatiran bahwa pertumbuhan ekonomi global dapat melambat jika tidak ada perbaikan dalam waktu dekat.

"Semua sektor ekonomi terdampak oleh diesel. Ini menjadi salah satu alasan mengapa imbal hasil obligasi pemerintah AS begitu tinggi, karena ada ekspektasi inflasi akan terus meningkat," kata Claudio Galimberti, kepala ekonom Rystad Energy.

Harga rata-rata diesel di AS telah mencapai rekor baru. Kembali memanasnya konflik AS-Iran serta serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia memperbesar gangguan pasokan.

Berdasarkan data AAA, harga rata-rata diesel di AS kini mencapai US$ 5,85 per galon.

Harga tersebut masih berpotensi naik lebih tinggi karena persediaan diesel terus menyusut. Tekanan juga dapat meningkat ketika sejumlah negara bagian sentra pertanian AS memasuki musim panen dan penanaman.

Diesel merupakan bahan bakar utama bagi berbagai peralatan pertanian. Kontrak berjangka yang setara dengan diesel, yakni heating oil, juga mengalami lonjakan harga menjelang musim dingin.

Kondisi tersebut berpotensi memperbesar tekanan biaya bagi sektor pertanian, transportasi, hingga konsumen.

Proyeksi harga minyak dinaikkan

Sejumlah lembaga mulai menaikkan proyeksi harga minyak seiring gangguan jalur pasokan di Timur Tengah.

Baca Juga: Terjebak 10 Hari di Terowongan, Warga China Selamat dari Bencana Nepal

Citi menaikkan proyeksi rata-rata harga Brent pada kuartal III menjadi US$ 86 per barel dari sebelumnya US$ 80 per barel. Citi menyebut pembukaan kembali Selat Hormuz berlangsung lebih lama dari perkiraan sebelumnya.

Analis ANZ juga menaikkan proyeksi harga Brent jangka pendek menjadi US$ 95 per barel, dengan potensi kenaikan lebih lanjut apabila konflik di Timur Tengah semakin memburuk.

Namun, kenaikan harga minyak juga menghadapi tekanan dari sisi kebijakan moneter AS.

Perekonomian AS menciptakan 162.000 lapangan kerja pada Agustus, meredakan kekhawatiran mengenai pelemahan pasar tenaga kerja. Data tersebut sekaligus memperkuat alasan bagi Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga pada akhir September.

"Data ketenagakerjaan yang kuat mengarah pada kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve dan hal itu membebani WTI," kata John Kilduff, mitra di Again Capital.

Pemerintah AS mengatakan arus minyak dari Timur Tengah telah kembali mendekati level normal dalam beberapa pekan terakhir. Namun, data pelacakan kapal tanker dan analisis pasar menunjukkan gangguan masih cukup serius.

Hanya empat kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz pada Kamis (3/9/2026). Jumlah tersebut jauh di bawah rata-rata 10 hari yang mencapai sekitar 15 kapal, berdasarkan data pelayaran awal.

Norbert Rucker, kepala riset ekonomi dan next generation research di Julius Baer, mengatakan harga minyak saat ini kembali memasuki fase ketika kebuntuan konflik dan serangan berulang membangkitkan kembali risk premium yang telah tertanam dalam harga.

"Sejauh ini, belum ada indikasi bahwa eskalasi pekan ini berdampak signifikan terhadap ekspor dari Timur Tengah dan memperketat pasar minyak," kata Rucker.

Baca Juga: TCS Siapkan Investasi US$7,41 Miliar untuk Bangun Pusat Data AI 1 GW

Menurut dia, reli harga minyak saat ini lebih banyak didorong oleh sentimen dan ketakutan pasar.

Serangan AS pada pekan ini yang menewaskan dan melukai puluhan orang, termasuk warga sipil Iran, menjadi bentrokan paling sengit antara kedua negara sejak Juli.

Sementara itu, tiga sumber senior Iran mengatakan kampanye AS untuk menekan perekonomian Iran melalui blokade ekspor minyak dan upaya menghentikan penghindaran sanksi semakin sulit ditahan.

Di sisi lain, Irak meningkatkan ekspor minyak pada Agustus menjadi sekitar 2,34 juta barel per hari (bpd) dari sekitar 1,35 juta bpd pada Juli, menurut dua pejabat energi Irak.