Minyak dan Batubara Bergerak Berlawanan, Mana yang Lebih Menarik?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah dan batubara bergerak berlawanan pada perdagangan Jumat (28/8/2026). Harga minyak mentah terkoreksi, sementara batubara melanjutkan penguatan dalam sepekan terakhir.

Berdasarkan data Trading Economics pada Jumat (28/8/2026) pukul 15.50 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$ 83,12 per barel, turun 0,53% secara harian. Dalam sepekan, harga WTI turun 4,82% dan secara bulanan melemah 1,89%.

Sementara itu, harga batubara berada di level US$ 139,50 per ton, naik 6,29% secara harian, 6,90% dalam sepekan, dan 7,10% dalam sebulan.


Baca Juga: IHSG Melemah 0,06% ke 6.518 pada Jumat (28/8), ISAT, MBMA, AMRT Top Losers LQ45

Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures, Brahmantya Himawan melihat terdapat perbedaan daya tarik antara minyak dan batubara bagi investor hingga akhir tahun.

"Kalau harus memilih, saya melihat minyak lebih menarik dari sisi potensi capital gain, tetapi risikonya juga jauh lebih besar," kata Brahmantya kepada Kontan, Jumat (28/8/2026).

Menurutnya, minyak memiliki lebih banyak katalis yang dapat mendorong pergerakan harga secara cepat. Perkembangan geopolitik, kondisi pasokan, OPEC+, hingga persediaan minyak menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi pergerakan harga.

Sementara itu, Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi melihat batubara lebih menarik jika dilihat dari kondisi Indonesia.

"Kalau di Indonesia sendiri, ya pasti batubara, karena Indonesia masih kekurangan minyak dan harus impor," tutur Ibrahim.

Ibrahim juga mengatakan, produksi minyak Indonesia hanya sekitar 602 ribu barel per hari sehingga terdapat kekurangan pasokan sekitar 1,5 juta barel per hari yang harus dipenuhi melalui impor.

Kondisi tersebut membuat kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan beban biaya impor energi Indonesia. Di sisi lain, Indonesia memiliki produksi batubara yang besar dan menjadi salah satu komoditas ekspor utama.

"Sehingga biaya impor yang cukup tinggi, sehingga ekspor batu bara yang begitu besar pun juga belum bisa menutupi untuk biaya impor terhadap minyak mentah," ujar Ibrahim.

Untuk prospek hingga akhir 2026, Ibrahim memperkirakan harga minyak mentah WTI berpeluang kembali mencapai sekitar US$ 105,90 per barel, sedangkan harga batubara berpotensi naik hingga sekitar US$ 170 per ton.

Sementara itu, Brahmantya memproyeksikan WTI berada di kisaran US$ 90-US$ 100 per barel dan batubara US$ 130-US$ 155 per ton.

Baca Juga: Minat Investor terhadap SR025 Tetap Positif, tapi Penjualan Berpotensi Lebih Selektif

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News