Minyak dan Emas Lanjut Menguat, Ini Proyeksi Harga Pekan Depan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah dunia dan emas diperkirakan masih melanjutkan tren penguatan pada perdagangan pekan depan ditopang oleh sentimen geopolitik dan permintaan global.

Berdasarkan data Trading Economics pada penutupan perdagangan hari Jumat (27/3/2026), harga minyak mentah jenis WTI dalam sehari naik 5,46% menjadi US$ 99,64 per barel. Adapun, minyak mentah Brent secara harian naik 4,22% menjadi US$ 112,57 per barel.

Sementara, harga emas mencapai level US$ 4.495 per ons troi, naik 2,63% dalam sehari. Sedangkan, emas batangan bersertifikat Antam ditutup Rp 2.837.000 per gram pada pekan ini.


Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan kenaikan harga minyak mentah dan emas masih akan berlanjut dalam jangka pendek

"Minyak WTI kemungkinan besar di minggu depan berada di kisaran US$ 92,300 - US$ 112,200 per barel. Kemudian Brent di minggu depan berada di kisaran US$ 110- US$ 116 per barel," ujar Ibrahim dalam rilisnya, Minggu (29/3/2026).

Baca Juga: Emas Melonjak Dipicu Aksi Borong Saat Harga Terkoreksi dan Ketegangan Timur Tengah

Ibrahim juga memperkirakan harga Brent pada minggu selanjutnya mencapai US$ 125 per barel.

Untuk emas, Ibrahim melihat ruang kenaikan masih terbuka, meskipun pergerakannya cenderung fluktuatif.

Jika terjadi koreksi, harga emas diperkirakan bergerak di kisaran US$ 4.363 per ons troi dan harga emas batangan Antam Rp 2.815.000 per gram. 

Namun, apabila kembali menguat, harga emas berpotensi menembus level resistance di US$ 4.666 per ons troi. Pada kondisi tersebut, emas batangan Antam akan dibanderol Rp 2.855.000 per gram.

Baca Juga: Harga Minyak & Emas Dunia Berpeluang Kembali Menguat Bersamaan Dalam Waktu Dekat

Selanjutnya, apabila terjadi tren kenaikan berlanjut, maka resistance berikutnya berada di US$ 4.912 yang dapat mendorong harga emas batangan Antam ke kisaran Rp 2.920.000 per gram.

"Jadi minggu depan untuk logam mulia menyentuh Rp 3.000.000 itu tidak akan terjadi, kemungkinan terjadi di minggu berikutnya pada tanggal 6-7 April," kata Ibrahim.

Ibrahim menjelaskan konflik geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu pendorong utama kenaikan harga minyak dan emas.

Selain itu, serangan Ukraina terhadap fasilitas migas Rusia turut memengaruhi pasokan energi global.

Dari sisi emas, permintaan juga didukung oleh aksi pembelian bank sentral global dalam jumlah besar, yang memanfaatkan momentum harga untuk menambah cadangan.

Baca Juga: Belum Ada Kesepakatan Iran-AS, Harga Emas Stabil, Tapi Pasar Masih Bergolak

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News