KONTAN.CO.ID - Harga minyak mentah dunia kembali melemah, sementara bursa saham Asia bergerak turun tipis pada perdagangan Rabu (7/1/2026), seiring pelaku pasar mencermati dampak gejolak politik di Venezuela dan ketidakpastian terkait masa depan cadangan minyak negara tersebut. Kontrak berjangka minyak melanjutkan penurunan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan Venezuela akan “menyerahkan” hingga 50 juta barel minyak untuk dijual pada harga pasar menyusul penggulingan dan penangkapan pemimpin negara itu. Langkah tersebut dinilai berpotensi menambah pasokan global dan menekan harga energi.
Baca Juga: Dolar Australia Tembus Level Tertinggi 15 Bulan, Data Inflasi Masih Campuran Melansir
Reuters, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 1,1% ke US$56,48 per barel, sementara Brent melemah 0,8% ke US$60,22 per barel. Di pasar saham, indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang turun 0,2%. Bursa Jepang menjadi penekan utama kawasan, dengan indeks Nikkei 225 melemah 0,25%. Sebaliknya, saham berbasis komoditas cenderung menguat setelah lonjakan harga logam industri pada sesi sebelumnya. Indeks S&P/ASX 200 Australia, yang didominasi saham tambang dan komoditas, justru naik 0,3%, terbantu sentimen positif dari sektor sumber daya alam. “Kemungkinan terbesar dari situasi ini adalah dorongan bagi ekonomi global karena tambahan pasokan minyak tersebut,” kata Michael McCarthy, CEO platform investasi Moomoo Australia dan Selandia Baru. “Namun jelas ini menjadi sentimen negatif bagi harga minyak. Di sisi lain, meningkatnya ketidakpastian geopolitik bisa saja menutupi manfaat ekonomi tersebut.”
Baca Juga: AS–Venezuela Sepakat Ekspor Minyak US$2 Miliar, Pasokan China Terancam Kesepakatan antara Caracas dan Washington untuk mengekspor hingga US$2 miliar minyak Venezuela ke AS, yang diumumkan Trump pada Selasa, menjadi sorotan utama pasar. Kesepakatan ini menyusul serangan militer akhir pekan lalu di Venezuela serta pernyataan Gedung Putih terkait opsi penggunaan kekuatan militer AS dalam berbagai isu geopolitik global. Di pasar mata uang, dolar AS bertahan menguat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, sementara investor menanti data ekonomi AS untuk petunjuk waktu pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve. Indeks dolar relatif stabil di 98,60, euro bertahan di US$1,169, sedangkan yen melemah tipis 0,05% ke 156,73 per dolar AS. Tekanan terhadap saham Jepang juga datang dari langkah China yang melarang ekspor barang “dual-use” ke Jepang barang yang dapat digunakan untuk kepentingan militer sebagai respons atas pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi terkait Taiwan.
Baca Juga: Bursa Australia Menguat Rabu (7/1), Sektor Pertambangan Memimpin Reli Sementara itu, pasar saham AS justru mengabaikan ketegangan global dan mencetak rekor tertinggi pada perdagangan semalam. Harga tembaga sebelumnya melonjak ke rekor tertinggi, sementara nikel melonjak lebih dari 10% akibat kekhawatiran gangguan pasokan. Ke depan, perhatian pasar tertuju pada laporan ketenagakerjaan bulanan AS yang akan dirilis Jumat, serta data JOLTS dan laporan tenaga kerja swasta ADP yang dijadwalkan keluar lebih awal. Data-data ini akan memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter, di mana pasar saat ini memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga Fed tahun ini.
Baca Juga: Pertumbuhan Sektor Jasa Jepang Melambat pada Desember, PMI Tunjukkan Tekanan Biaya Di kawasan Asia, data menunjukkan inflasi konsumen Australia pada November naik lebih rendah dari perkiraan, sementara inflasi inti melambat tipis.
Di Jepang, survei sektor swasta mengindikasikan pertumbuhan sektor jasa melambat ke level terendah sejak Mei. Harga emas spot turun 0,6% ke US$4.469,04 per ons troi, sementara tembaga turun 0,1% ke US$13.111,50 per ton. Bitcoin melemah 0,8% ke US$92.499, dan ether turun 0,5% ke US$3.257.