Minyak Dunia Anomali: Konflik Reda, Tapi Ancaman Iran Belum Sirna



KONTAN.CO.ID - TEHERAN. Harga minyak dunia melemah pada awal pekan ini seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Komitmen Amerika Serikat dan Iran untuk melanjutkan pembicaraan terkait program nuklir Teheran membuat pelaku pasar menurunkan premi risiko, setidaknya untuk sementara waktu.

Pada perdagangan Senin (waktu Asia), harga minyak Brent turun 1% ke level US$ 67,38 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 1% ke posisi US$ 62,94 per barel.

Dalam laporan Reuters (9/1), Analis Pasar IG Tony Sycamore, menilai meredanya kekhawatiran pasokan menjadi pemicu utama pelemahan harga. Dengan masih terbukanya ruang dialog antara AS dan Iran, risiko gangguan suplai minyak dari kawasan Timur Tengah dinilai tidak seagresif sebelumnya.


Kesepakatan kedua negara untuk melanjutkan perundingan nuklir tidak langsung, menyusul pertemuan di Oman yang disebut berlangsung positif, berhasil meredakan kekhawatiran pasar akan eskalasi konflik. Padahal sebelumnya, kegagalan diplomasi dikhawatirkan dapat menyeret kawasan tersebut ke arah perang terbuka, terlebih AS telah meningkatkan kehadiran militernya di wilayah itu.

Meski begitu, risiko geopolitik belum sepenuhnya sirna. Selat Hormuz jalur vital yang dilalui sekitar 20% konsumsi minyak global tetap menjadi titik rawan. Investor masih mencermati potensi gangguan ekspor dari Iran maupun produsen minyak regional lainnya.

Harga minyak bahkan telah turun lebih dari 2% sepanjang pekan lalu, mencatatkan pelemahan pertama dalam tujuh pekan terakhir, seiring meredanya tensi geopolitik.

Baca Juga: India Mulai Jauhi Minyak Rusia Demi Muluskan Pakta Dagang dengan AS

Namun, pernyataan Menteri Luar Negeri Iran pada akhir pekan lalu kembali menahan optimisme pasar. Teheran menegaskan akan menyerang pangkalan militer AS di Timur Tengah jika mendapat serangan, menandakan ancaman konflik masih membayangi.

“Volatilitas tetap tinggi di tengah retorika yang saling bertentangan. Setiap sentimen negatif berpotensi menghidupkan kembali premi risiko pada harga minyak,” ujar Priyanka Sachdeva, analis pasar senior Phillip Nova.

Dari sisi lain, pasar minyak global juga dibayangi upaya Barat menekan pendapatan Rusia dari ekspor energi. Komisi Eropa mengusulkan larangan luas terhadap layanan yang mendukung ekspor minyak mentah Rusia melalui jalur laut.

Dampaknya mulai terasa di Asia. Kilang minyak India yang sebelumnya menjadi pembeli terbesar minyak mentah Rusia via laut mulai menghindari pembelian untuk pengiriman April dan diperkirakan akan memperpanjang sikap tersebut. Langkah ini dinilai sejalan dengan upaya New Delhi memperlancar negosiasi dagang dengan Washington.

Ke depan, pelaku pasar akan mencermati sejauh mana pergeseran pasokan global ini berlangsung. Konsistensi India dalam mengurangi impor minyak Rusia, serta kecepatan masuknya pasokan alternatif, akan menjadi faktor penentu arah harga minyak dalam waktu dekat.

Baca Juga: India Pangkas Pembelian Minyak Rusia, Apa Dampaknya pada Perdagangan AS?

Selanjutnya: Kena Sanksi OJK, Saham PIPA dan REAL Dinilai Berisiko Suspensi hingga Delisting

Menarik Dibaca: Ramalan Zodiak Keuangan dan Karier Besok Selasa 10 Februari 2026, Harus Produktif

TAG: