JAKARTA. Harga minyak dunia terus merosot menuju level terendah lebih dari enam tahun ini. Tingginya produksi minyak Amerika Serikat dan penguatan dollar AS pasca Federal Reserve (The Fed) mengerek suku bunga membuat prospek minyak semakin suram. Menutup pekan, Jumat (18/12) harga kontrak minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari turun 50 sen atau 1,4% ke level US$ 34,45 per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara, minyak jenis Brent untuk pengiriman Februari turun 35 sen, atau 0,9%, ke level U$36,71 per barel di ICE Futures Europe Exchange London. WTI Crude Oil (Jan'16)
Sumber: money.cnn.com Perusahaan perbankan investasi Goldman Sachs bertaruh harga minyak akan berada di level US$ 38 per barel di Februari tahun depan. Belum lagi kemungkinan perang minyak antara AS dan blok Arab bakal kian sengit. Menyusul Presiden Obama Jumat (18/12) menandatangani anggaran belanja yang di dalamnya termasuk mencabut larangan ekspor minyak mentah, pertama kali dalam 40 tahun terakhir. Salah satu poin terpenting dari beleid itu adalah kini AS bisa menjual hasil minyak ke luar negeri, meski pasar global jenuh akan pasokan. Larangan ekspor ini dibuat tahun 1970-an di tengah krisis pasokan minyak di AS. Goldman Sachs mengatakan minyak mungkin perlu jatuh ke U$ 20 per barel, sesuatu yang belum terjadi sejak tahun 2002 untuk memaksa pengurangan produksi yang berarti. “Penurunan tersebut bisa membantu mendorong keseimbangan tingkat suplai dan permintaan untuk minyak,” kata Goldman. Apa kabar bensin dan solar ? Di tengah pelemahan minyak dunia, rupanya harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dan solar tak serta itu ikut-ikutan turun. Padahal, jika mengacu pada Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perhitungan Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak (BBM), yang telah diubah dengan Permen ESDM Nomor 4 Tahun 2015, pemerintah akan mengevaluasi harga BBM secara periodik. Dengan mencermati perkembangan harga minyak dunia dan kondisi perekonomian nasional saat ini. Adapun harga BBM jenis Premium untuk wilayah Jawa, Madura dan Bali (Jamali) saat ini sebesar Rp 7.400 per liter dan luar Jamali Rp 7.300 per liter. Sedangkan harga Solar Rp 6.900 per liter. Besaran harga BBM bersubsidi ini sudah bertahan sejak akhir Maret lalu. Direktur Jenderal (Dirjen) Anggaran Kemenkeu, Askolani sebelumnya mengungkapkan, pemerintah akan kembali menghitung harga jual BBM Solar subsidi berdasarkan rata-rata harga minyak dunia, harga MOPS (Mean of Plats Singapore) dan nilai tukar rupiah.