Minyak Mahal, Negeri Jiran Ini Jaga Subsidi BBM Tetap Besar, Rp 175 Triliun Di 2027



KONTAN.CO.ID - Kuala Lumpur. Pemerintah Malaysia mempertahankan anggaran bernilai besar untuk subsidi bahan bakar minyak (BBM) tahun 2027. Kebijakan ini ditempuh untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan biaya hidup dan ketidakpastian harga energi global. 

Pemerintah Malaysia mengalokasikan 40 miliar ringgit atau sekitar Rp 175 triliun untuk subsidi bahan bakar minyak (BBM) pada 2027. Jumlah tersebut sama besar dengan perkiraan realisasi subsidi BBM tahun 2026, yang melonjak dari kuota awal 15 miliar ringgit. 

Dengan jumlah penduduk Malaysia sebanyak 34,4 juta jiwa pada 2026, menurut Department of Statistics Malaysia (DOSM), subsidi BBM per jiwa mencapai sekitar RM 1.163 atau Rp 5,09 juta per tahun alias Rp 424.000 per bulan.


Perdana Menteri sekaligus Menteri Keuangan Malaysia Anwar Ibrahim mengatakan, total anggaran subsidi, bantuan, dan insentif pemerintah diperkirakan melampaui 80 miliar ringgit atau sekitar Rp 350 triliun pada tahun depan.

Dari jumlah tersebut, anggaran bantuan tunai melalui program Sumbangan Tunai Rahmah (STR) dan Sumbangan Asas Rahmah (SARA) ditingkatkan menjadi 16 miliar ringgit atau sekitar Rp 70 triliun, dibandingkan alokasi 15 miliar ringgit pada tahun sebelumnya.

Anwar menyampaikan kebijakan tersebut saat membacakan Anggaran Malaysia 2027 di parlemen pada Jumat (9/10/2026). Secara keseluruhan, pemerintah menganggarkan belanja federal sekitar 459,8 miliar ringgit atau setara Rp 2.014 triliun.

Berdasarkan pidato resmi Anggaran Malaysia 2027, subsidi BBM diperkirakan tetap tinggi akibat krisis energi di kawasan Asia Barat. Pemerintah juga berupaya menjaga agar bantuan sosial tetap menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

Baca Juga: Harga Emas Naik Lebih dari 1%, Didorong Penurunan Harga Minyak dan Pelemahan Dolar

Subsidi BBM Malaysia di tengah krisis energi

Pemerintah Malaysia memperhitungkan dampak berkepanjangan konflik di Asia Barat terhadap anggaran negara. Kenaikan harga energi berpotensi menambah beban subsidi sekaligus meningkatkan biaya transportasi dan kebutuhan pokok masyarakat.

Tekanan tersebut turut memengaruhi perkiraan belanja pemerintah pada 2026. Anggaran tahun berjalan diproyeksikan meningkat menjadi 444,1 miliar ringgit, dari target awal sekitar 419 miliar ringgit.

Meski subsidi BBM dipertahankan, kebijakan tersebut belum tentu menyelesaikan seluruh persoalan biaya hidup. Peneliti senior Economic and Financial Policy Institute Universiti Utara Malaysia, Irwan Shah Zainal Abidin, menilai tekanan biaya hidup telah muncul sebelum konflik Iran dimulai.

Menurut Irwan, mempertahankan subsidi BBM lebih berfungsi mencegah tekanan ekonomi masyarakat semakin berat daripada menyelesaikan akar persoalan biaya hidup.

Dengan demikian, efektivitas kebijakan subsidi juga bergantung pada kemampuan pemerintah menjaga harga kebutuhan pokok, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperluas perlindungan sosial.

Baca Juga: Badan PBB Ini Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Dunia Melambat Tahun Ini

Pemerintah Malaysia akui tantangan biaya hidup

Dalam laporan prospek ekonomi 2027, pemerintah Malaysia mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dalam upaya menjaga keterjangkauan harga, mempersempit kesenjangan upah, serta meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan.

Pemerintah juga menyoroti terbatasnya cakupan perlindungan sosial bagi pekerja mandiri dan sektor informal. Selain itu, penyaluran bantuan tunai yang masih terfragmentasi menjadi salah satu persoalan yang perlu dibenahi.

Di sisi fiskal, pemerintah menargetkan defisit anggaran turun menjadi 3,3% dari produk domestik bruto (PDB) pada 2027, dibandingkan proyeksi revisi sebesar 3,6% pada 2026.

Penurunan defisit tersebut akan didukung oleh upaya meningkatkan efisiensi belanja, termasuk melalui penyaluran subsidi yang lebih tepat sasaran.

Sementara itu, inflasi Malaysia pada 2027 diperkirakan berada dalam kisaran 1,8% hingga 2,8%. Tekanan harga diproyeksikan relatif tinggi pada semester pertama akibat dampak lanjutan kenaikan biaya energi, pangan, dan berbagai input produksi.

Tekanan inflasi diperkirakan mereda secara bertahap pada paruh kedua tahun depan.

Dengan mempertahankan subsidi BBM dan meningkatkan bantuan tunai, pemerintah Malaysia berupaya menyeimbangkan perlindungan daya beli masyarakat dengan kebutuhan menjaga disiplin fiskal di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Sumber: https://www.kompas.com/global/read/2026/10/09/190100070/mau-ringankan-beban-rakyat-malaysia-anggarkan-subsidi-bbm-rp-175-t-pada. 

Jauh Dari Gemerlap Sirkuit, Ada Anak-Anak Yang Sedang Membangun Masa Depan
© 2026 Konten oleh Kontan