Misteri Bulan Neptunus Terkuak, Tabrakan Dahsyat Diduga Pernah Guncang Tata Surya



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Pengamatan terbaru terhadap sejumlah bulan dan cincin Neptunus mengungkap bukti adanya bencana kosmik raksasa yang terjadi miliaran tahun lalu di sekitar planet terluar Tata Surya tersebut.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa sebuah objek seukuran Pluto diduga memicu tabrakan dahsyat yang mengubah sistem satelit Neptunus secara permanen.

Para peneliti menggunakan James Webb Space Telescope (JWST) milik NASA untuk meneliti komposisi tiga bulan kecil bagian dalam Neptunus, yakni Proteus, Larissa, dan Galatea, serta cincin debu di bagian dalam planet tersebut.


Hasil pengamatan mengungkap keberadaan mineral lempung kaya magnesium yang biasanya terbentuk jauh di bagian dalam benda langit di wilayah terluar Tata Surya. Mineral serupa diketahui juga terdapat di planet katai Ceres yang mengorbit di sabuk asteroid utama antara Mars dan Jupiter, serta pada sejumlah meteorit.

"Mineral-mineral ini memerlukan kontak yang berlangsung lama antara air dalam bentuk cair dan batuan agar dapat terbentuk," ujar ilmuwan planet Ryleigh Davis, peneliti pascadoktoral di University of California, San Diego, sekaligus penulis utama studi yang dipublikasikan di jurnal Science Advances.

Baca Juga: Kilang India Borong Minyak Timur Tengah dan Afrika Barat

Menurut Davis, ukuran dan suhu bulan-bulan kecil Neptunus terlalu kecil dan terlalu dingin sehingga proses kimia tersebut tidak mungkin terjadi di sana.

"Karena itu, mineral lempung tersebut pasti berasal dari tempat lain, yakni dari bagian dalam sebuah dunia purba yang jauh lebih besar. Penemuan material ini pada bulan-bulan bagian dalam Neptunus menunjukkan adanya peristiwa katastrofik pada masa lalu Neptunus yang menghancurkan dunia-dunia purba tersebut dan membuka bagian dalamnya. Bulan-bulan kecil dan cincin yang kita lihat saat ini kemudian terbentuk kembali dari puing-puing kehancuran itu," kata Davis, yang melakukan penelitian ini saat masih berada di Caltech.

Triton Diduga Menjadi Penyebab Kekacauan

Para peneliti menyebut pelaku utama di balik bencana tersebut kemungkinan adalah Triton, yang saat ini merupakan bulan terbesar Neptunus. Namun, Triton diyakini sebelumnya berasal dari wilayah Sabuk Kuiper, kawasan di luar orbit Neptunus yang dipenuhi benda-benda es.

Sekitar satu miliar tahun pertama setelah Tata Surya terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun lalu, ketika planet-planet raksasa gas masih bermigrasi menuju orbitnya saat ini, gaya gravitasi Neptunus diduga berhasil menangkap Triton.

Triton memiliki ukuran sedikit lebih besar dibanding Pluto, tetapi masih lebih kecil daripada Bulan milik Bumi.

Setelah tertangkap gravitasi Neptunus, gaya gravitasi Triton mengacaukan orbit bulan-bulan asli Neptunus hingga sebagian besar saling bertabrakan. Dari puing-puing tabrakan itulah kemudian terbentuk bulan-bulan bagian dalam yang kini mengelilingi Neptunus.

"Bagian dalam bulan-bulan es berukuran besar biasanya selamanya tersembunyi dari pengamatan kita karena tertutup lapisan es air yang sangat tebal dan hanya dapat dipelajari melalui pemodelan serta inferensi. Bulan-bulan bagian dalam Neptunus mungkin merupakan satu-satunya tempat di Tata Surya di mana kita dapat mengamati material tersebut secara langsung, karena peristiwa katastrofik ini pada dasarnya membalik bagian dalam dunia-dunia purba itu ke luar," jelas Davis.

Orbit Triton Jadi Petunjuk Penting

Triton merupakan satu-satunya bulan besar di Tata Surya yang mengorbit berlawanan arah dengan rotasi planet induknya. Fakta ini semakin memperkuat dugaan bahwa Triton bukanlah bulan asli Neptunus, melainkan objek yang terbentuk di tempat lain sebelum akhirnya tertangkap oleh gravitasi planet tersebut.

Sebagai perbandingan, tiga planet raksasa gas lainnya—Jupiter, Saturnus, dan Uranus—memiliki sistem bulan besar yang terbentuk bersama planet induknya. Seluruh bulan tersebut mengorbit dalam lintasan yang relatif melingkar dan searah dengan rotasi planetnya.

"Neptunus adalah satu-satunya planet raksasa di Tata Surya yang tidak memiliki sistem satelit besar yang teratur. Akibatnya, Neptunus justru memiliki penyusup yang tertangkap gravitasi dan kemudian mendominasi sistem satelitnya, bukan keluarga bulan yang tersusun rapi seperti yang kita lihat pada planet-planet raksasa lainnya," ujar Davis.

Saat ini, Triton menyumbang lebih dari 99% total massa seluruh sistem satelit Neptunus yang terdiri atas bulan-bulan dan cincin.

Baca Juga: Aktivitas Bisnis Zona Euro Menguat, Risiko Geopolitik Masih Membayangi Ekonomi

Neptunus Memiliki 16 Bulan

Neptunus berada sekitar 30 kali lebih jauh dari Matahari dibandingkan Bumi dan diketahui memiliki 16 bulan.

Salah satu bulan terluarnya, Nereid, memiliki salah satu orbit paling lonjong di antara seluruh bulan di Tata Surya. Berdasarkan penelitian lain, komposisi Nereid mengindikasikan bahwa bulan tersebut kemungkinan merupakan satu-satunya penyintas dari sistem bulan asli Neptunus yang berhasil lolos dari kehancuran akibat kedatangan Triton.

Triton sendiri diperkirakan memiliki komposisi yang mirip dengan Pluto. Permukaannya diselimuti es nitrogen, es metana, serta karbon dioksida, dan memiliki atmosfer tipis yang didominasi nitrogen.

Para peneliti juga menyebut adanya kemungkinan lain, meski dinilai lebih kecil, yaitu sebuah objek Sabuk Kuiper lain yang berukuran sekelas Pluto melintas terlalu dekat dengan Neptunus hingga hancur akibat tarikan gravitasi planet tersebut.

Tata Surya Memiliki Masa Lalu yang Penuh Kekerasan

Temuan ini memberikan gambaran bahwa sejarah Tata Surya jauh lebih dinamis dan penuh tabrakan daripada yang selama ini dibayangkan.

"Ini merupakan contoh yang sangat jelas tentang bagaimana satu peristiwa acak dapat mengubah secara mendasar arsitektur sebuah sistem planet," tutup Davis.