KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) terus berupaya memitigasi risiko kenaikan inflasi dan inflasi inti. Salah satu langkah yang diambil bank sentral dengan mengerek suku bunga di pasar uang dan penjualan surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan ini sebagai langkah untuk terus menyerap likuiditas yang berlebih yang memiliki tempo jangka pendek. Sebelumnya, BI sudah melakukan normalisasi giro wajib minimum (GWM) perbankan secara bertahap. “GWM sudah menyerap likuiditas perbankan sekitar Rp 219 triliun sejak 1 Maret hingga 15 Juli 2022. Ini bagian dari operasional moneter dalam pengendalian inflasi. Selain itu yang kami juga akan kami perkuat adalah mendorong kenaikan struktur suku bunga pasar uang,” papar Perry secara virtual, Kamis (21/7).
Mitigasi Risiko Kenaikan Inflasi, BI Bakal Kerek Struktur Suku Bunga di Pasar Uang
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) terus berupaya memitigasi risiko kenaikan inflasi dan inflasi inti. Salah satu langkah yang diambil bank sentral dengan mengerek suku bunga di pasar uang dan penjualan surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan ini sebagai langkah untuk terus menyerap likuiditas yang berlebih yang memiliki tempo jangka pendek. Sebelumnya, BI sudah melakukan normalisasi giro wajib minimum (GWM) perbankan secara bertahap. “GWM sudah menyerap likuiditas perbankan sekitar Rp 219 triliun sejak 1 Maret hingga 15 Juli 2022. Ini bagian dari operasional moneter dalam pengendalian inflasi. Selain itu yang kami juga akan kami perkuat adalah mendorong kenaikan struktur suku bunga pasar uang,” papar Perry secara virtual, Kamis (21/7).