Mitsubishi dan Toyota siap genjot pasar ekspor



KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Produsen otomotif mulai genjot ekspor tahun ini. Saat ini Mitsubishi Motors akan peningkatan jumlah produksi Xpander seiring dengan permintaan yang tinggi di Indonesia dan wilayah ASEAN.

Oleh karena itu, pabrik PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Indonesia (MMKI) yang berada di Bekasi akan ditingkatkan kapasitas produksinya untuk dapat memenuhi pasar ekspor.

Prianto, HR & GA Director PT MMKI menjelaskan pada tahun 2020, Mitsubishi berencana untuk menaikkan kapasitas produksi menjadi 220.000 unit per tahun. Adapun kapasitas produksi untuk semua model saat ini adalah 160.000 unit per tahun.


"Untuk Xpander kami alokasikan 70% untuk domestik dan 30% untuk ekspor," kata Prianto kepada KONTAN, Selasa (26/3). Alhasil, dari kapasitas produksi 160.000 unit tersebut sekitar 30% dialokasikan untuk kebutuhan ekspor.

Sekadar informasi, Xpander menjadi mobil penumpang pertama Mitsubishi Motors yang diekspor ke luar negeri dari Indonesia, dengan Filipina sebagai tujuan ekspor pertama di wilayah ASEAN.

Dari catatan KONTAN, Chief Executive Mitsubishi Motors Osamu Masuko pernah mengatakan, tujuan ekspor ke depan tidak hanya di Filipina saja, tapi juga ke Thailand, Vietnam, dan negara-negara di Amerika Selatan dan Timur Tengah. Sehingga ekspor Xpander ini akan berkontribusi kuat terhadap produksi Mitsubishi Motors secara global.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Warih Andang Tjahjono menjelaskan tahun ini studi-studi untuk mempelajari destinasi ekspor baru terus dilakukan. Hal ini sebagai langkah juga meningkatkan ekspor. "Seperti misalnya di pasar Australia kami masih studi kendaraan mana yang cocok untuk dapat diekspor," kata Warih, Selasa (26/3).

Di saat yang sama Toyota juga berupaya tetap fokus dalam hal menjaga kestabilan performa ekspor di negara baru tujuan ekspansi tahun 2018 yang lalu seperti Afrika dan Amerika Latin.

Adapun untuk negara ekspor yang akan dituju, saat ini TMMIN masih fokus ke negara berkembang. Apalagi sedari awal prinsipal Toyota sudah menetapkan Indonesia ke basis negara eksportir kendaraan berkembang.

Sepanjang tahun 2018, total pengapalan CBU bermerek Toyota berhasil menembus angka 206.600 unit atau naik positif sebesar 4% dari capaian tahun 2017 lalu yang berjumlah 199.600 unit. Tahun 2019, Toyota memproyeksikan bahwa kinerja ekspor CBU bermerek Toyota naik lebih dari 5%.

Selain dalam bentuk CBU, Pada periode yang sama TMMIN juga berhasil mengekspor kendaraan dalam bentuk terurai atau Completely Knock-Down (CKD) sebanyak 42.700 unit, mesin tipe TR dan NR sebanyak 146.000 unit serta komponen sebanyak 107,6 juta buah.

Menyoal upaya memperbaiki Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) murni/true localization, sejak tahun 2004, TMMIN telah menggunakan baja lokal untuk bagian-bagian kendaraan tertentu. Di tahun 2017, dua jenis bahan mentah yaitu resin, bekerja sama dengan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP), dan non- woven fabric, bekerja sama dengan PT Herculon Carpet, telah berhasil dilokalkan, setelah sebelumnya di tahun 2016, bekerja sama dengan PT Pertamina, melokalkan engine oil lubricant. Saat ini TMMIN sedang dalam proses riset dan pengembangan penggunaan aluminium lokal untuk dipergunakan pada velg (wheel disc) bekerja sama dengan INALUM dan Pako. TKDN murni produk Toyota berada di angka 65%. Ke depannya, Toyota menargetkan bisa mencapai true localization hingga level 80% di tahun 2020.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Azis Husaini