MMIX Siapkan Strategi Hadapi Tekanan Daya Beli dan Pelemahan Rupiah



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Multi Medika Internasional Tbk (MMIX) mengandalkan strategi downsizing atau memperkecil ukuran kemasan produk untuk menjaga penjualan di tengah tekanan daya beli masyarakat. 

Strategi ini dilakukan dengan menyediakan produk dalam kemasan lebih kecil agar konsumen tetap dapat berbelanja sesuai anggaran harian.

Direktur Utama PT Multi Nice Paper Indonesia (MNPI), Mengky Mangarek, mengatakan pola belanja masyarakat telah bergeser dari bulanan menjadi mingguan, bahkan harian.


Kondisi ini mendorong perusahaan menyesuaikan ukuran kemasan, terutama untuk produk popok bayi yang sebelumnya banyak dijual dalam kemasan berisi 28 hingga 40 buah.

Baca Juga: Pabrik Baru Beroperasi, Multi Medika (MMIX) Incar Pendapatan Rp 473 Miliar di 2027

“Sekarang orang sudah belanjanya mingguan. Berarti kita harus bikin yang isi 12, 16, 18, bahkan yang isi satuan sampai tiga. Jadi pola belanja orang berubah dari bulanan menjadi mingguan, mingguan jadi harian,” ujar Mengky dalam konferensi pers peresmian pabrik MNPI di Tangerang, Kamis (15/10).

Menurut Mengky, penyesuaian ukuran kemasan memungkinkan perusahaan menjangkau konsumen yang memiliki anggaran belanja terbatas. Konsumen tetap bisa membeli produk sesuai kebutuhan tanpa harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk persediaan selama sebulan.

“Daya beli mereka turun, mereka tidak ada uang lebih. Jadi mereka beli yang single sachet, tapi setiap hari datang ke warung,” katanya.

Mengky menambahkan, strategi kemasan kecil tidak selalu membuat volume penjualan perusahaan menurun.

Ia mencontohkan produk masker yang sebelumnya dijual dalam kemasan kotak dengan penjualan sekitar 10.000 kotak, kemudian meningkat menjadi sekitar 300.000 kemasan setelah beralih ke kemasan satuan.

Meski demikian, penjualan dalam kemasan kecil membuat biaya per barang menjadi lebih tinggi. Karena itu, perusahaan perlu menyesuaikan strategi produksi dan distribusi agar produk tetap terjangkau sekaligus menjaga efisiensi operasional.

Dari sisi distribusi, MMIX mengandalkan jaringan ritel modern dan warung tradisional untuk memperluas jangkauan pasar. Mengky menilai saluran distribusi tersebut relevan dengan perubahan pola belanja masyarakat yang semakin mengutamakan pembelian dalam jumlah kecil.

Baca Juga: Laba Bersih Multi Medika (MMIX) Turun 10,86% Semester I 2026, Pendapatan Ikut Melemah

Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah menjadi tantangan bagi perusahaan karena meningkatkan tekanan terhadap biaya bahan baku. Mengky mengatakan tekanan ekonomi telah dirasakan sejak tahun lalu dan berlanjut pada tahun ini.

Meski demikian, perusahaan berupaya menjaga kinerja melalui efisiensi operasional dan fleksibilitas sumber bahan baku. MMIX memanfaatkan pasokan dari dalam negeri maupun China untuk menjaga biaya produksi tetap kompetitif.

“Kita sudah merasakan kontraksi dari tahun lalu sebenarnya. Tahun ini lebih parah. Tapi MMIX bisa bertahan karena kita sudah efisiensi dari dulu dan bahan kita sangat fleksibel,” ujar Mengky.

Untuk mengantisipasi fluktuasi harga, perusahaan juga menjaga ketersediaan bahan baku hingga enam bulan sebelumnya. Di samping itu, MMIX menerapkan sistem just in time agar bahan baku dan produk dapat langsung masuk ke proses produksi tanpa menimbulkan penumpukan persediaan yang berlebihan.

Strategi tersebut juga akan didukung oleh pengembangan kapasitas produksi. Saat ini, area pabrik MNPI memiliki luas sekitar tiga hektare, dengan sekitar satu hektare yang telah dimanfaatkan.

Perusahaan berencana menambah empat lini produksi dari satu lini yang beroperasi saat ini untuk meningkatkan efisiensi proses produksi berdasarkan ukuran produk.

Baca Juga: Multi Medika (MMIX) Percepat Transformasi Bisnis Lewat Pabrik Popok di Tangerang

Selain popok bayi, perusahaan juga menyiapkan pengembangan produk popok dewasa dan pantylinersebagai bagian dari perluasan portofolio produk.

Dari sisi kinerja, Mengky memperkirakan pendapatan perusahaan pada 2026 tumbuh sekitar 15% dibandingkan tahun sebelumnya. Perusahaan juga menargetkan pertumbuhan pendapatan yang lebih agresif pada 2027, yakni sekitar 50%.

Ia mengatakan, kinerja pabrik baru membutuhkan waktu untuk memberikan kontribusi yang lebih optimal terhadap pendapatan perusahaan.

Dengan berjalannya fasilitas produksi dan penyesuaian strategi produk, perusahaan berharap dapat memperkuat pertumbuhan bisnis pada kuartal IV-2026 dan tahun berikutnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News