JAKARTA. Agar asap dapur bisnisnya tetap mengepul, importir umum (IU) mobil completely built-up (CBU) tengah memperkuat bisnis jual beli mobil CBU bekas. Meski mereka tetap melakoni bisnis impor mobil CBU, namun kebanyakan mobil bermesin di bawah 3000 cc, yang tarif pajaknya tidak terlalu jumbo. Dalam berbisnis tentu harus siap menghadapi risiko naik dan surut. Bak putaran roda, ada masanya bisnis berada di atas, tapi ada masanya berada di bawah. Ini pula yang terjadi dalam bisnis mobil impor utuh alias completely built up (CBU). Bisnis mobil CBU sempat melaju kencang tahun 2012-2013 lalu. Namun, dalam perkembangannya, sejak tahun 2014 sampai dengan tahun 2015 mulai jalan lambat. Rupiah yang melorot terhadap dollar Amerika Serikat (AS), ditambah aneka regulasi pajak yang mengerek biaya impor, membuat importir umum yang menjual merek mobil CBU asal Eropa, Amerika Serikat (AS) maupun Jepang kesulitan untuk tancap gas.
Mobil baru mahal, mobil bekas jadi pilihan
JAKARTA. Agar asap dapur bisnisnya tetap mengepul, importir umum (IU) mobil completely built-up (CBU) tengah memperkuat bisnis jual beli mobil CBU bekas. Meski mereka tetap melakoni bisnis impor mobil CBU, namun kebanyakan mobil bermesin di bawah 3000 cc, yang tarif pajaknya tidak terlalu jumbo. Dalam berbisnis tentu harus siap menghadapi risiko naik dan surut. Bak putaran roda, ada masanya bisnis berada di atas, tapi ada masanya berada di bawah. Ini pula yang terjadi dalam bisnis mobil impor utuh alias completely built up (CBU). Bisnis mobil CBU sempat melaju kencang tahun 2012-2013 lalu. Namun, dalam perkembangannya, sejak tahun 2014 sampai dengan tahun 2015 mulai jalan lambat. Rupiah yang melorot terhadap dollar Amerika Serikat (AS), ditambah aneka regulasi pajak yang mengerek biaya impor, membuat importir umum yang menjual merek mobil CBU asal Eropa, Amerika Serikat (AS) maupun Jepang kesulitan untuk tancap gas.