Mobil bekas yang mereknya tak ada lagi di Indonesia harganya jadi anjlok, mengapa?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hengkangnya sejumlah produsen otomotif dari pasar kendaraan bermotor Indonesia memiliki dampak pada harga jual kembali produk-produk yang telah dipasarkannya. Sebab, langkah strategis tersebut membuat konsumen ragu untuk menggarasikan mobil lantaran hilangnya daya dukung aftersales pabrikan untuk menyediakan beragam komponen yang dibutuhkan dalam jangka waktu tertentu. 

Belum lagi pasar otomotif Indonesia amat dinamis sehingga tiap tahun selalu ada produk baru yang masuk dan turut meramaikan pasar mobil bekas.

"Sebagai contoh Chevrolet, meski menawarkan sejumlah kelebihan, mobil ini harus rela harga bekasnya anjlok. Konsumen tidak ingin ambil risiko karena APM-nya sudah tidak ada," kata Herjanto Kosasih, Manager Senior Bursa Mobil Bekas WTC Mangga Dua kepada Kompas.com. 

"Yah, mereka ini memikirkan servisnya bagaimana, ketersediaan spare part, dan resale value-nya nanti saat dijual kembali pasti akan sangat anjlok. Mungkin komponen bisa beli di luar atau online, tapi siapa yang bisa jamin kualitasnya? Konsumen pasti beralih ke model lain,” lanjutnya.

Baca Juga: Harga mobil bekas Nissan Grand Livina generasi ini sudah murah, kini mulai Rp 60 juta

Pada kesempatan sama, Herjanto menyatakan bahwa harga mobil Ford dan Chevrolet mengalami depresiasi paling besar diantara beberapa produk yang ada di pasaran. "Kalau untuk mobil Jepang seperti Datsun atau Honda Freed yang sudah tak diproduksi lagi, turunnya 15 sampai 25%. Tapi Ford dan Chevrolet bisa 20 sampai 30% tergantung kondisi mobil," ujar dia.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Harga Mobil Bekas yang Mereknya Tak Ada di Indonesia Jadi Anjlok, Ini Alasannya" Penulis : Ruly Kurniawan Editor : Aditya Maulana

Selanjutnya: Harga mobil bekas Honda HR-V tahun muda sudah murah, kini mulai Rp 190 juta

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie