Mobil Listrik Banyak Pakai Baterai LFP, Bagaimana Nasib Baterai Nikel?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah berupaya menggenjot hilirisasi nikel menjadi baterai kendaraan listrik. Hal ini seiring ketatnya persaingan teknologi baterai berbasis Lithium Ferro Phospate (LFP) dengan Nickel Manganese Cobalt (NMC).

Belakangan ini baterai LFP memang cukup populer di kalangan produsen mobil listrik global. Sejumlah model mobil listrik yang mengaspal di Indonesia pun mengadopsi baterai LFP. Di antaranya adalah Chery Omoda E5, Wuling Air ev dan BinguoEV, MG 4 EV dan MG ZS EV, hingga BYD.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif tidak menampik fakta banyaknya pabrikan otomotif yang mengadopsi teknologi baterai LFP. Indonesia sendiri masih menghadapi tantangan berupa teknologi baterai NMC yang belum terimplementasikan di sektor hilirnya. "Itu yang harus dikembangkan," kata dia di Kantor Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM, Jumat (16/2).


Potensi industri nikel di Indonesia pada masa depan jelas sangat potensial. Dengan populasi kendaraan roda dua mencapai 120 juta unit dan roda empat sebanyak 24 juta unit, kebutuhan baterai berbasis nikel masih akan diperlukan.

Baca Juga: Program Konversi Motor Listrik Terkendala Kelengkapan Surat Kendaraan

Lagi pula, setiap teknologi baterai memiliki segmen pasarnya masing-masing. Yang terpenting aspek kualitas harus selalu jadi perhatian.

"Di sisi lain, kita harus mendorong industrialisasi sumber-sumber daya alam mineral untuk memproduksi baterai kendaraan listrik," imbuh Arifin.

Sebagai informasi, baterai LFP diklaim mampu membuat mobil listrik menempuh jarak kurang lebih sejauh 700 kilometer (km). Ini lebih rendah ketimbang baterai NMC yang diklaim mampu menempuh jarak lebih dari 1.000 km.r

Di sisi lain, baterai LFP berusia lebih panjang lantaran dapat diisi hingga 3.000 kali, ketimbang baterai NMC yang hanya dapat diisi 1.000--2.000 kali. Baterai LFP juga diklaim tidak mudah terbakar pada suhu tertentu dibandingkan dengan baterai NMC.

Sementara itu, Assistant Vice President Chery Sales Indonesia Zeng Shuo membenarkan bahwa Chery Omoda E5 menggunakan baterai LFP. Walau demikian, di negara asalnya yakni China, Chery menggunakan berbagai macam baterai untuk model-model mobil listriknya, termasuk baterai berbasis nikel.

"Kami memiliki beberapa penyuplai baterai untuk mobil listrik Chery," ujarnya kepada KONTAN, Jumat (16/2).

Dia menambahkan, Chery berpotensi mengadopsi baterai berbasis nikel untuk model-model elektrifikasi Chery berikutnya di Indonesia. Hal ini demi mendukung upaya hilirisasi nikel yang digencarkan pemerintah sekaligus meningkatkan material lokal pada mobil listrik Chery.

Baca Juga: Ini 2 Mobil Listrik Baru dari MG Motor yang Dipamerkan di IIMS 2024

PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) menyebut, mobil listrik buatan Hyundai seperti Ioniq 5 memakai baterai NMC. Ini dengan pertimbangan bahwa sumber daya nikel di Indonesia sangat melimpah.

Terlepas dari itu, tidak menutup kemungkinan Hyundai akan mengembangkan baterai LFP untuk mobil listriknya pada masa mendatang. "Baik baterai LFP dan NCM sebenarnya hanya pilihan terhadap teknologi," tukas Chief Operating Officer Hyundai Motors Indonesia Franciscus Soerjopranoto, Kamis (16/2).

Asal tahu saja, Hyundai bersama LG Energy Solution ditargetkan akan menuntaskan proyek pabrik baterai mobil listrik di Karawang, Jawa Barat pada tahun ini. Pabrik baterai NMC ini berkapasitas penuh 10 Gigawatt hour GWh per tahun.

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia Jongkie Sugiarto mengatakan, teknologi baterai mobil listrik pada dasarnya terus berkembang. Alhasil, urusan penggunaan baterai LFP atau NCM lebih baik diserahkan pada masing-masing produsen otomotif dengan menyesuaikan kebutuhan produk mobil listrik di pasar. r

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari