JAKARTA. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ikut memantau kenaikan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) pada perbankan. Halim Alamsyah, Ketua Dewan Komisioner LPS mengatakan, kenaikan kredit bermasalah ini akan membuat perbankan lebih hati-hati dalam menyalurkan kredit. Segmen kredit yang akan dihindari untuk pembiayaan kredit adalag komoditas seperti tambang dan batubara karena permintaan masih rendah diiringi harga yang turun. “Ke depan masih ada sentimen positif untuk perbaikan kredit karena regulator perbankan telah memperlonggar sejumlah kebijakan,” katanya, Selasa (13/9). Saat ini, perbankan mencatat rasio NPL net antara 2,4%-2,5%, dan rasio NPL gross antara 3,0%-3,11%. Tren NPL ini terus naik sejak dari dua tahun belakang.
Modal dan margin tinggi jadi penyangga NPL
JAKARTA. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ikut memantau kenaikan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) pada perbankan. Halim Alamsyah, Ketua Dewan Komisioner LPS mengatakan, kenaikan kredit bermasalah ini akan membuat perbankan lebih hati-hati dalam menyalurkan kredit. Segmen kredit yang akan dihindari untuk pembiayaan kredit adalag komoditas seperti tambang dan batubara karena permintaan masih rendah diiringi harga yang turun. “Ke depan masih ada sentimen positif untuk perbaikan kredit karena regulator perbankan telah memperlonggar sejumlah kebijakan,” katanya, Selasa (13/9). Saat ini, perbankan mencatat rasio NPL net antara 2,4%-2,5%, dan rasio NPL gross antara 3,0%-3,11%. Tren NPL ini terus naik sejak dari dua tahun belakang.