Modal Ventura 2026 Terkontraksi 0,95%, Ini Penyebabnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja pembiayaan modal ventura masih mengalami tekanan pada awal tahun 2026.

Pasalnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kontraksi pembiayaan modal ventura per Maret 2026 adalah sebesar 0,95% secara Year on Year (YoY) dengan nilai Rp16,57 triliun.

Kendati begitu, Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo) menyebut bahwa kinerja modal ventura pada awal 2026 tetap tumbuh positif, meski lanjunya cenderung moderat.


Kepala Bidang Amvesindo, Even Alex Chandra menyebut sejumlah faktor global yang menjadi penekan utama industri modal ventura saat ini.

Baca Juga: Bank Jago Catat Laba Melonjak 115% pada 2025, RUPST Setujui Direksi Baru

Misalnya, eskalasi geopolitik di Timur Tengah memicu volatilitas pasar dan pelemahan rupiah, sementara fragmentasi perdagangan global mengubah pola arus modal internasional. Di sisi lain, tech winter yang belum sepenuhnya reda juga mempersempit opsi exit bagi investor. 

"Kombinasi ini mendorong investor ke posisi wait and see dan menghindari eksposur risiko tinggi," katanya kepada Kontan, Kamis (7/5/26).

Di samping itu, Evan juga melihat adanya tiga klaster sektor yang saat ini menunjukkan penguatan minat investasi modal ventura.

Pertama, sektor applied AI dan enterprise SaaS, khususnya solusi yang langsung menyasar efisiensi operasional bisnis.

Kedua, sektor energi terbarukan dan climate tech yang didorong oleh tekanan regulasi global, kebijakan hilirisasi nasional, dan meningkatnya permintaan korporasi terhadap solusi hijau, serta subsektor seperti agritech, pengelolaan limbah, dan energi bersih.

Ketiga, sektor infrastruktur digital dan healthtech juga terus menarik minat investor, termasuk bisnis pusat data, logistik, dan rantai pasok yang mendapatkan manfaat langsung dari peningkatan penetrasi digital di Indonesia.

Lebih lanjut, ia mencermati bahwa investor modal ventura saat ini tidak hanya sekadar mengejar pertumbuhan yang agresif, tetapi mulai fokus pada bisnis yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Baca Juga: Kurs Jual Dolar AS di Sejumlah Bank Tembus Rp 17.500 Saat Rupiah Menguat Kamis (7/5)

Meskipun kondisi pasar juga masih bergejolak hingga saat ini, tetapi menurutnya peluang investasi masih tetap terbuka.

Sejalan dengan itu, ia menyampaikan sejumlah strategi yang bisa dilakukan untuk menangkap peluang tersebut. Misalnya, dengan memperketat seleksi portofolio, memperluas investasi ke sektor yang didukung kebijakan pemerintah, memanfaatkan skema pendanaan alternatif, serta memperkuat kerja sama dengan BUMN dan lembaga domestik.

Selain itu, investor juga perlu menyiapkan strategi exit yang lebih realistis melalui akuisisi dan transaksi sekunder.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News