KONTAN.CO.ID - Organisasi kesehatan global Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) mengalokasikan pendanaan sekitar US$ 60 juta kepada Moderna dan dua kelompok pengembang vaksin lainnya guna mempercepat pengembangan vaksin Ebola Bundibugyo, virus mematikan yang saat ini menyebar di wilayah timur Republik Demokratik Kongo. CEPI merupakan salah satu investor awal yang berperan penting dalam pengembangan vaksin saat pandemi Covid-19.
Baca Juga: Anak Mantan Presiden Filipina Ditahan, Terseret Skandal Korupsi Ratusan Miliar Organisasi ini kini kembali menggalang dukungan untuk mempercepat ketersediaan vaksin terhadap Ebola Bundibugyo, yang hingga kini belum memiliki vaksin maupun terapi yang disetujui. Kepala CEPI Richard Hatchett mengatakan, vaksin untuk Ebola Bundibugyo berpotensi siap memasuki tahap uji coba dalam beberapa bulan ke depan. "Setiap hari sangat berarti dalam perlombaan melawan penyakit mematikan ini," ujar Hatchett kepada
Reuters, Senin (1/6/2026). Ia menambahkan, prospek hadirnya vaksin dalam waktu yang tidak terlalu lama diharapkan dapat mendorong pembahasan mengenai pembiayaan dan mekanisme distribusi vaksin ketika nantinya tersedia.
Baca Juga: India Pertimbangkan Pemangkasan Tarif Wiski Jika Inggris Lakukan Pembatasan Baja Meski demikian, Hatchett mengingatkan bahwa pengembangan vaksin tetap memiliki tingkat ketidakpastian yang tinggi. Selain itu, kondisi keamanan yang menantang di wilayah timur Kongo dapat menyulitkan pelaksanaan uji klinis. Berdasarkan data Africa Centres for Disease Control and Prevention (Africa CDC) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), wabah Ebola Bundibugyo telah menyebabkan 282 kasus terkonfirmasi dengan 42 kematian, serta sekitar 1.100 kasus suspek di Kongo. Di Uganda, tercatat sembilan kasus terkonfirmasi termasuk satu kematian. Lembaga kesehatan global telah menetapkan wabah tersebut sebagai darurat kesehatan masyarakat.
Baca Juga: Harga Aluminium Melonjak ke Level Tertinggi dalam Empat Tahun akibat Konflik Timteng Moderna Terima Porsi Pendanaan Terbesar CEPI berkomitmen mengucurkan dana hingga US$ 50 juta untuk mendukung pengembangan praklinis dan uji klinis tahap awal kandidat vaksin Ebola Bundibugyo milik Moderna. Pendanaan tersebut juga akan digunakan untuk mendukung proses manufaktur dan pengembangan ke tahap uji klinis lanjutan apabila hasil awal menunjukkan efektivitas yang positif. Selain Moderna, CEPI juga mengalokasikan hingga US$ 8,6 juta untuk vaksin yang dikembangkan oleh University of Oxford dan diproduksi oleh Serum Institute of India. Sementara itu, International AIDS Vaccine Initiative (IAVI) menerima pendanaan awal sebesar US$ 3,2 juta untuk mengembangkan kandidat vaksinnya.
Baca Juga: India Kejar Tarif Istimewa dari AS Jelang Kesepakatan Dagang Kandidat vaksin Bundibugyo milik IAVI menggunakan teknologi yang sama dengan vaksin Ervebo produksi Merck yang telah disetujui untuk strain Ebola Zaire. Dalam studi pada hewan, vaksin tersebut menunjukkan manfaat terhadap tingkat kelangsungan hidup. Adapun kandidat vaksin Oxford, ChAdOx1 Bundibugyo, dibangun menggunakan platform teknologi yang sama dengan vaksin Covid-19 hasil kolaborasi Oxford dan AstraZeneca. Hatchett menyebut Oxford dan Serum Institute sebelumnya telah menunjukkan kemampuan mempercepat produksi vaksin saat wabah Rift Valley Fever di Mauritania dan Senegal tahun lalu. "Mereka mampu menyiapkan dosis untuk uji coba hanya dalam sekitar enam minggu, jauh lebih cepat dibandingkan proses pengembangan vaksin yang sebelumnya bisa memakan waktu bertahun-tahun," ujarnya.
Baca Juga: Harga Emas Turun, Ketegangan Timur Tengah Kembali Memanas Memicu Kekhawatiran Inflasi Tantangan Distribusi dan Pendanaan
Setelah vaksin berhasil dikembangkan, tantangan berikutnya adalah memastikan akses bagi masyarakat yang membutuhkan. Hatchett mencontohkan, sekitar 300.000 dosis vaksin Ervebo dibutuhkan untuk membantu mengendalikan wabah Ebola Zaire yang terjadi di Kongo pada periode 2018–2020. Secara terpisah, aliansi vaksin global Gavi pada Jumat (29/5) lalu juga mengumumkan komitmen pendanaan hingga US$ 50 juta untuk mendukung respons terhadap wabah Ebola. Sementara itu, Pandemic Fund milik Bank Dunia menyediakan hibah hingga US$ 220,6 juta guna memperkuat upaya penanggulangan wabah tersebut.