Momen Lebaran 2026, Ekonom Taksir Belanja Masyarakat Turun Akibat Rem Konsumsi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Meski mobilitas mudik tetap tinggi, geliat ekonomi pada periode Lebaran 2026 diprediksi tidak akan sekuat tahun sebelumnya. 

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menaksir akan terjadi penurunan nilai belanja masyarakat akibat tren penghematan yang mulai dilakukan sejak awal tahun. Ia melihat adanya perubahan perilaku masyarakat yang mulai membatasi pengeluaran. 

"Perkiraan saya, jumlah pemudik hanya turun sedikit dibanding tahun lalu, tetapi dari sisi belanja penurunan akan lebih terasa. Dalam beberapa bulan ini saja (Januari dan Februari 2026), terlihat masyarakat mulai mengerem konsumsi," ujarnya kepada Kontan.co.id, Selasa (17/3/2026).


Wijayanto membeberkan, data survei Bank Indonesia (BI) pada Februari 2026 memperkuat indikasi tersebut, di mana jumlah pendapatan masyarakat yang dikonsumsi hanya mencapai 71,6%. Sebaliknya, porsi tabungan melesat ke angka 17,7% dan cicilan sebesar 10,6%. Menurutnya, ini merupakan rekor tertinggi jumlah tabungan dan rekor terendah konsumsi pasca pandemi Covid-19.

Meski konsumsi secara umum melandai, lanjut Wijayanto, sejumlah sektor bisnis tetap akan kecipratan berkah dari mobilitas musiman ini. 

Baca Juga: Perputaran Uang Mudik Lebaran 2026 Diprediksi Capai Rp 160 Triliun

"Transportasi, energi, pariwisata, perhotelan dan kuliner adalah sektor yang paling mendapatkan berkah Lebaran," tambahnya.

Terkait pertumbuhan ekonomi nasional, Wijayanto optimis dampak musiman ini masih mampu menyokong target pemerintah di awal tahun. Dia merinci, momen Natal dan Tahun Baru (Nataru) serta Lebaran mewakili sekitar 30-40% belanja ritel masyarakat, fenomena ini akan tetap terjadi di tahun ini, apalagi kenaikan harga minyak bumi belum betul-betul terasa.

Ia meyakini target pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 sebesar 5,5% masih dapat diraih berkat kontribusi libur panjang serta belanja pemerintah yang digenjot sejak awal tahun. Namun, ia mengkritisi tantangan berat akan muncul di kuartal-kuartal berikutnya yang diprediksi akan tumbuh jauh lebih rendah.

"Menurut saya (potensi ekonomi lebaran tahun ini) akan sedikit lebih rendah dari tahun lalu dari sisi jumlah pemudik dan nilai belanja. Karena masyarakat meresponse potensi ekonomi sulit pasca Lebaran dengan melakukan penghematan belanja," pungkasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang membeberkan, berdasarkan survei Kementerian Perhubungan, potensi pergerakan masyarakat pada Lebaran 2026 diperkirakan mencapai 143,9 juta orang atau 50,6% dari total populasi. Angka ini memang menurun 1,75% dibandingkan tahun 2025 yang mencapai 146,4 juta orang.

Baca Juga: Jumlah Pemudik Turun 1,75%, Potensi Perputaran Uang Diprediksi Capai 148 Triliun

Namun, penurunan jumlah pemudik tidak serta-merta menyurutkan konsumsi. Sarman memproyeksikan perputaran uang bisa mencapai Rp 148,39 triliun, naik sekitar 8% dari tahun lalu. Hitungan ini didasarkan pada asumsi rata-rata pengeluaran per keluarga yang meningkat 10% menjadi Rp 4,12 juta per KK.

"Jumlah pemudik 143,9 juta setara dengan 35.975.000 kepala keluarga dengan asumsi rata-rata per keluarga 4 orang. Jika per keluarga membawa uang sebesar Rp 4.125.000 naik 10% dari tahun 2025 lalu sebesar Rp 3,75 juta maka potensi perputaran uang sebesar Rp 148.396.875.000.000," ujarnya kepada KONTAN, Selasa (17/3/2026).

Sarman menambahkan, angka tersebut merupakan estimasi moderat, di mana dia bilang nilai tersebut bisa naik lebih tinggi lagi jika per keluarga mengantongi uang sebesar Rp 4.500.000.

"Angka perputaran uang ini berpotensi naik, hitungan ini di angka yang moderat atau paling rendah. Masih berpotensi mencapai Rp 161.887.500.000.000 dengan asumsi rata-rata per keluarga membawa uang sebesar Rp 4.500.000," lanjutnya. 

Baca Juga: Menhub: Pergerakan Masyarakat Capai 143,91 Juta Orang pada Lebaran 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News