Momentum Penguatan Dolar AS Mereda, Yen Jepang Berpeluang Menguat Lebih Besar



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sinyal kehati-hatian Federal Reserve (The Fed) dalam mempertahankan suku bunga acuan di level 3,50%–3,75% mulai menahan laju penguatan dolar AS di pasar valuta asing.

Melansir data Trading Economics pada Senin (3/8/2026) pukul 15.08 WIB, Indeks Dolar AS (DXY) berada di level 99,796 atau melemah 0,12% secara harian dan terkoreksi 1,05% secara bulanan.

Di saat yang sama, pasangan mata uang USD/JPY berada di level 156,750 atau melemah 0,43% secara harian, sementara USD/CHF tercatat di level 0,80824 atau menguat 0,09% secara harian.


Penurunan indeks dolar AS ini mencerminkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September yang mulai berkurang di mata pelaku pasar.

Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa, menilai keputusan The Fed tersebut menandakan bahwa bank sentral AS masih berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan moneter selanjutnya.

Baca Juga: Intervensi Bersama AS-Jepang Bayangi Dolar, Yen Diproyeksi Terus Menguat

Menurut Amru, melemahnya momentum dolar AS pada pasangan USD/JPY semakin diperkuat oleh aksi intervensi bersama pemerintah Jepang dan Amerika Serikat di pasar valas.

Di sisi lain, pergerakan USD/CHF lebih dipengaruhi oleh dinamika pelemahan greenback serta prospek kebijakan Swiss National Bank (SNB).

Hal tersebut membuat potensi penguatan franc Swiss menjadi cenderung lebih terbatas jika dibandingkan dengan yen Jepang.

Selain kebijakan The Fed, Amru menjelaskan bahwa pergerakan pasar valas saat ini dipengaruhi oleh kombinasi sentimen geopolitik, kebijakan bank sentral, serta rilis data ekonomi utama.

Dari AS, perhatian pasar tertuju pada data PMI Manufaktur ISM, Nonfarm Payrolls (NFP), pengangguran, inflasi, dan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Sementara dari Jepang, fokus pasar tertuju pada prospek kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ), inflasi, dan komitmen intervensi pemerintah.

“Di luar faktor ekonomi, perkembangan geopolitik di Timur Tengah juga masih menjadi sentimen penting,” terang Amru kepada Kontan, Senin (3/8/2026).

Dalam jangka pendek, Amru memproyeksikan yen Jepang masih memiliki ruang penguatan seiring meningkatnya ekspektasi normalisasi kebijakan moneter BoJ dan komitmen menjaga stabilitas nilai tukar.

Baca Juga: The Fed Pertahankan Suku Bunga, Rupiah Belum Tentu Menguat

Terkait target level pergerakannya, Amru memproyeksikan USD/JPY akan bergerak dalam kisaran 155,00-160,00 hingga akhir tahun.

Sebaliknya, franc Swiss diperkirakan bergerak relatif stabil dan penguatannya akan makin terbatas jika tensi geopolitik terus mereda.

Untuk Indeks Dolar AS (DXY), Amru memperkirakan pergerakan berada dalam kisaran 98–101 hingga akhir tahun tergantung pada rilis data ekonomi AS.

Hingga akhir tahun 2026, Amru menyimpulkan yen Jepang memiliki potensi apresiasi yang lebih unggul dibandingkan franc Swiss.

Kenaikan suku bunga BoJ, normalisasi kebijakan moneter, dan intervensi pemerintah menjadi penopang utama daya tarik yen.

Sementara itu, pasangan USD/CHF diproyeksikan bergerak stabil dalam rentang 0,7900–0,8300 hingga akhir tahun.

Pergerakan franc Swiss tersebut masih akan dibayangi oleh arah kebijakan SNB, inflasi domestik Swiss, serta dinamika sentimen risiko global.

Baca Juga: Rupiah Spot Ditutup Menguat 0,14% ke Rp 17.997 per Dolar AS pada Senin (3/8/2026)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: