JAKARTA. Harga minyak yang masih bergerak di sekitar US$ 30 per barel mendorong Moody's Investor Service meninjau kembali pemeringkatan perusahaan-perusahaan sektor minyak dan tambang. Lembaga pemeringkat ini meninjau ulang rating 120 perusahaan minyak dan gas di seluruh dunia untuk kemungkinan penurunan peringkat. Dari total perusahaan tersebut, tujuh perusahaan berasal dari Asia Selatan dan Asia Tenggara. Di Indonesia, Moody's akan meninjau peringkat utang jangka panjang PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dan unsecured medium term notes PT Pertamina. Vikas Halan, VP Senior Credit Officer Moody's Singapura, dalam pengumuman rating mengatakan, harga minyak kemungkinan akan pulih lebih lambat ketimbang ekspektasi.
Moody's akan pangkas rating 120 emiten
JAKARTA. Harga minyak yang masih bergerak di sekitar US$ 30 per barel mendorong Moody's Investor Service meninjau kembali pemeringkatan perusahaan-perusahaan sektor minyak dan tambang. Lembaga pemeringkat ini meninjau ulang rating 120 perusahaan minyak dan gas di seluruh dunia untuk kemungkinan penurunan peringkat. Dari total perusahaan tersebut, tujuh perusahaan berasal dari Asia Selatan dan Asia Tenggara. Di Indonesia, Moody's akan meninjau peringkat utang jangka panjang PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dan unsecured medium term notes PT Pertamina. Vikas Halan, VP Senior Credit Officer Moody's Singapura, dalam pengumuman rating mengatakan, harga minyak kemungkinan akan pulih lebih lambat ketimbang ekspektasi.