Moody's beri outlook negatif, ini rekomendasi analis Phintraco untuk ASRI



KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  Lembaga pemeringkat internasional, Moody's, memangkas outlook PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) dari stabil menjadi negatif. Salah satu alasannya adalah likuiditas ASRI yang semakin tipis.

Moody's memprediksi, likuiditas ASRI akan mengalami pelemahan dalam jangka waktu 12 bulan hingga 18 bulan ke depan. Selain itu, ASRI disinyalir akan kesulitan menghadapi risiko refinancing lantaran dianggap tidak memiliki rencana konkret untuk membayar obligasi senilai US$ 235 juta yang jatuh tempo pada Maret 2020 mendatang.

Moody's juga menilai kondisi pasar indonesia seperti pelemahan rupiah dan kenaikan suku bunga bakal menjadi tantangan bagi ASRI untuk melunasi utang-utangnya.


Nilai kas dan setara kas ASRI masih di luar ekspektasi Moody's. Pada periode enam bulan pertama tahun ini, ASRI memiliki kas setara kas Rp 904 miliar. Sementara ekspektasi Moody's, ASRI bisa menghasilkan Rp 1 triliun hingga Rp 1,7 triliun dalam bentuk uang tunai dari operasi selama 12-18 bulan ke depan.

Moody's memperkirakan ASRI tak akan mampu mencapai target itu sehingga akan sulit menutup pembayaran obligasi pada tahun 2020 nanti.

Analis Phintraco Sekuritas Valdi Kurniawan mengatakan, salah satu hal yang mendasari Moody's menurunkan outlook ASRI dari stabil menjadi negatif adalah current ratio yang hanya sebesar 0.74% atau di bawah 1%.

"Mengingat DER yang masih di kisaran 1,31%, maka diperkirakan current ratio yang berada di bawah 1% tersebut disebabkan oleh penurunan di sisi aset lancar, salah satunya adalah kas dan setara kas yang turun 5,85% yoy menjadi Rp 676.49 miliar," ungkapnya, Kamis (13/9).

Valdi melanjutkan, ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh ASRI untuk mengatasi hal tersebut. Salah satunya refinancing melalui penerbitan obligasi atau surat utang baru. Namun ia melihat aksi ini cukup beresiko mengingat ASRI tetap memiliki beban bunga untuk penerbitan obligasi atau surat utang baru.

"Di sisi lain, kondisi pasar properti di Indonesia belum terlalu kondusif. Pertumbuhan harga rumah yang relatif terbatas dalam 2 tahun terakhir dan kecenderungan kenaikan suku bunga acuan mendasari hal tersebut," tambahnya.

Valdy bilang, alternatif lain yang relatif lebih aman ialah menawarkan lahan-lahan yang dimilikinya ke pengembang lain untuk dikembangkan. "Hal ini dapat meningkatkan kas dan setara kas perseroan," tandasnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie