KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Moody’s Ratings memberikan peringkat Ba2(hyb) untuk surat berharga modal Additional Tier 1 (AT1) berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) yang akan diterbitkan oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (
BMRI). Moody’s menyebut, peringkat tersebut merupakan
preferred stock non-cumulative rating. Peringkat diberikan berdasarkan dokumen penerbitan yang masih berupa draf dan telah ditinjau oleh Moody’s.
Baca Juga: BRI Insurance Bayarkan Klaim PSAKI Dokumen final diperkirakan tidak akan mengalami perubahan material dibandingkan dokumen tersebut. Peringkat Ba2(hyb) tersebut berada tiga tingkat di bawah
Adjusted Baseline Credit Assessment (BCA) Bank Mandiri yang berada di level baa2. Penilaian ini mencerminkan risiko penghentian pembayaran distribusi secara non-kumulatif, penghapusbukuan pokok ketika bank berada dalam kondisi non-viability, serta posisi surat berharga yang subordinasi dalam proses likuidasi. “Peringkat tersebut tidak memasukkan dukungan pemerintah karena surat berharga ini ditujukan untuk menyerap kerugian ketika terjadi tekanan keuangan,” jelas Moody’s dalam keterangan resminya, Rabu (2/9/2026). Moody’s menjelaskan, surat berharga AT1 tersebut merupakan
non-viability preferred securities. Pembayaran distribusi dapat dibatalkan secara non-kumulatif atas diskresi bank. Pembayaran juga dapat dihentikan secara wajib dengan mempertimbangkan ketersediaan dana yang dapat didistribusikan, persyaratan modal regulator, serta diskresi regulator.
Baca Juga: OJK Cabut Izin BPRS Gaido Indonesia, LPS Lakukan Likuidasi Struktur AT1 Bank Mandiri Dari sisi struktur, AT1 Bank Mandiri memiliki posisi di bawah kewajiban deposito, kewajiban senior lainnya, seluruh utang subordinasi, serta kewajiban Bank Mandiri lainnya yang memiliki peringkat lebih tinggi dari AT1 tersebut. Namun, posisi AT1 masih berada di atas seluruh klaim pemegang saham Bank Mandiri. Selain itu, nilai pokok AT1 dapat dihapusbukukan sebagian maupun seluruhnya apabila terjadi kondisi tertentu yang ditetapkan regulator, dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Moody’s menyebut terdapat dua kondisi yang dapat memicu penghapusbukuan tersebut.
Baca Juga: AXA Mandiri Ungkap Faktor yang Memengaruhi Kinerja Unitlink hingga Akhir 2026 Pertama, apabila otoritas berwenang memiliki rencana untuk menyuntikkan modal ke bank karena keberlangsungan usaha bank dinilai berpotensi terganggu. Kedua, apabila terdapat kondisi lain yang ditetapkan OJK berdasarkan kewenangannya dari waktu ke waktu. Moody’s menyatakan, peringkat AT1 Bank Mandiri akan bergerak sejalan dengan
Baseline Credit Assessment (BCA) Bank Mandiri. Peluang kenaikan peringkat AT1 maupun BCA Bank Mandiri dinilai kecil mengingat prospek rating saat ini negatif. Namun, Moody’s dapat mengubah prospek tersebut menjadi stabil apabila peringkat sovereign Indonesia tetap berada di level Baa2 dan outlook-nya kembali menjadi stabil. Sebaliknya, peringkat AT1 dan BCA Bank Mandiri dapat diturunkan apabila peringkat sovereign Indonesia mengalami penurunan.
Baca Juga: Premi Asuransi Jiwa Tembus Rp 94,83 Triliun, Bancassurance Masih Jadi Andalan Penurunan rating juga dapat terjadi apabila rasio
tangible common equity (TCE) terhadap
risk-weighted assets (RWA) turun di bawah 14,5%, atau rasio laba bersih terhadap aset berwujud turun di bawah 2%. Sebagai informasi, hingga Juni 2026 total aset Bank Mandiri mencapai Rp2.528 triliun. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News