KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lembaga pemeringkat internasional Moody's Ratings menaikkan peringkat kredit PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (
ADMF) dari Baa1 menjadi A3. Namun, Moody's mengubah prospek peringkat atau outlook Adira dari stabil menjadi negatif, mengikuti perubahan prospek peringkat perusahaan induknya, PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN). Dalam pengumuman pada Jumat (9/10/2026), Moody's menaikkan peringkat penerbit jangka panjang Adira dalam mata uang asing maupun lokal menjadi A3 dari sebelumnya Baa1. Kenaikan peringkat tersebut mengikuti peningkatan Adjusted Baseline Credit Assessment (BCA) dan peringkat simpanan jangka panjang Bank Danamon menjadi masing-masing a3 dan A3. Moody's sebelumnya juga mengubah prospek peringkat Bank Danamon menjadi negatif dari stabil.
Baca Juga: SRBI Rp 288 Triliun Jatuh Tempo, Ini Dampaknya ke Likuiditas dan Kredit Perbankan Moody's menjelaskan, peringkat A3 Adira mencerminkan ekspektasi dukungan yang sangat tinggi dari Bank Danamon, yang merupakan anak usaha MUFG Bank Ltd. Peringkat Adira memperoleh tambahan empat tingkat di atas penilaian kredit mandirinya atau standalone assessment di level ba1, berkat potensi dukungan dari Bank Danamon apabila diperlukan. Sementara itu, perubahan prospek menjadi negatif berkaitan dengan prospek negatif peringkat utang pemerintah Indonesia yang berada di level Baa2. Berdasarkan metodologi Moody's, peringkat Adira dibatasi maksimal dua tingkat di atas peringkat pemerintah Indonesia. Di luar dukungan dari induk usaha, Moody's menilai kekuatan utama Adira terletak pada permodalan yang solid dan profitabilitas yang kuat. Kedua faktor tersebut dinilai mampu menjadi penyangga terhadap kualitas aset yang masih lemah meski membaik, volatilitas laba, serta risiko likuiditas.
Aset bertambah
Setelah merger dengan PT Mandala Multifinance Tbk pada 1 Oktober 2025, total aset Adira tumbuh 18% pada akhir 2025. Penggabungan usaha tersebut juga mendukung penguatan permodalan dan profitabilitas perusahaan. Moody's memperkirakan rasio modal inti berwujud terhadap total aset kelolaan atau tangible common equity to tangible managed assets (TCE/TMA) Adira akan tetap kuat di kisaran 35%–40% dalam 12–18 bulan mendatang. Kendati perusahaan membagikan dividen tunai dalam jumlah besar, rasio permodalan diperkirakan tetap terjaga berkat pertumbuhan pembiayaan yang moderat. Dari sisi kualitas aset, Adira menunjukkan perbaikan selama dua tahun terakhir setelah menghadapi tekanan pada portofolio pembiayaan kendaraan komersial. Manajemen memperketat proses penyaluran pembiayaan dan memprioritaskan stabilisasi portofolio dibandingkan mengejar pertumbuhan kredit secara agresif. Hasilnya, rasio gabungan kredit bermasalah tahap 3 dan penghapusbukuan bersih atau net charge-off membaik menjadi 6,3% per Juni 2026, dari 8,3% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Rasio tersebut juga sudah lebih rendah dibandingkan rata-rata lima tahun sebelum pandemi yang sebesar 8%.
Baca Juga: ACC Telah Terbitkan Obligasi Senilai Rp 3,58 Triliun per Kuartal III-2026 Biaya kredit bersih atau net credit costs Adira turut turun menjadi 5,5% pada Juni 2026, dibandingkan 6% setahun sebelumnya. Meski demikian, Moody's memperkirakan perbaikan kualitas aset Adira akan berlangsung lebih moderat ke depan. Indikator kualitas aset diproyeksikan cenderung stabil di sekitar level saat ini seiring ekspansi pembiayaan nonotomotif, yang memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan pembiayaan kendaraan.
Profitabilitas meningkat, pendanaan tetap dicermati
Dari sisi kinerja, profitabilitas Adira yang diukur melalui laba bersih terhadap rata-rata aset kelolaan meningkat menjadi 6,1% pada semester I-2026, dibandingkan 3,6% pada periode yang sama tahun lalu. Peningkatan tersebut terutama didorong oleh penurunan biaya kredit. Untuk 12–18 bulan ke depan, Moody's memperkirakan indikator profitabilitas tersebut berada di kisaran 5,5%–6%. Proyeksi ini mempertimbangkan potensi penyempitan margin bunga bersih secara moderat, biaya kredit yang relatif stabil, serta pertumbuhan pembiayaan setahun penuh yang lebih lambat. Di sisi pendanaan, Adira memiliki ketergantungan tinggi pada pendanaan grosir atau wholesale funding yang sensitif terhadap kepercayaan pasar. Hal ini tidak terlepas dari karakteristik perusahaan pembiayaan yang tidak dapat menghimpun simpanan langsung dari nasabah seperti perbankan. Namun, risiko pembiayaan kembali atau refinancing dinilai dapat diredam oleh pengelolaan jatuh tempo aset dan liabilitas yang relatif seimbang serta akses pendanaan yang baik dari sumber domestik. Dukungan pendanaan juga dapat berasal dari Bank Danamon dan MUFG Bank selaku induk langsung maupun induk utama.
Peluang kenaikan peringkat terbatas
Moody's menilai ruang kenaikan peringkat Adira dalam waktu dekat masih terbatas karena prospeknya negatif dan peringkatnya sudah berada dua tingkat di atas peringkat utang pemerintah Indonesia. Peringkat tersebut juga telah memperhitungkan ekspektasi dukungan yang sangat tinggi dari Bank Danamon. Meski demikian, kenaikan peringkat masih dimungkinkan apabila kondisi industri pembiayaan kendaraan di Indonesia semakin membaik dan profil kredit Adira terus menguat.
Baca Juga: BMRI Terima Gadai Saham JARR & PGUN, Analis: Kendali Bisa Berubah Jika Dieksekusi Salah satu indikator yang dapat mendukung kenaikan peringkat adalah penurunan rasio gabungan kredit bermasalah dan penghapusbukuan bersih menjadi 4% secara berkelanjutan. Selain itu, Adira perlu mempertahankan likuiditas dalam neraca yang secara struktural lebih tinggi, sehingga mampu menutup lebih dari 50% utang yang jatuh tempo dalam satu tahun ke depan. Sebaliknya, Moody's dapat menurunkan penilaian kredit mandiri Adira apabila kualitas aset memburuk secara material tanpa perbaikan berarti setelah pengetatan penyaluran pembiayaan dan perlambatan pertumbuhan.
Risiko penurunan peringkat juga muncul jika rasio laba bersih terhadap rata-rata aset kelolaan jatuh di bawah 1% akibat biaya kredit yang terus tinggi, rasio TCE/TMA turun di bawah 21%, atau akses pendanaan dan likuiditas melemah. Selain itu, penurunan Adjusted BCA Bank Danamon dari level a3 maupun penurunan peringkat utang pemerintah Indonesia dari Baa2 menjadi Baa3 dapat berujung pada penurunan peringkat Adira. Sebagai informasi, Adira berkantor pusat di Indonesia dan memiliki total aset konsolidasi sebesar Rp 38,6 triliun per 30 Juni 2026. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News