Moody’s Pangkas Outlook Bayan Resources (BYAN) Menjadi Negatif, Ini Penyebabnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Moody’s Ratings pangkas outlook peringkat PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi negatif dari sebelumnya stabil. Namun, lembaga pemeringkat tersebut mempertahankan peringkat corporate family rating (CFR) BYAN pada level Ba1.

Adapun peringkat Ba1 Bayan mencerminkan posisi perusahaan sebagai salah satu produsen batubara termal terbesar di Indonesia, umur cadangan tambang yang panjang, struktur biaya rendah, profitabilitas kuat, likuiditas sangat baik dan kebijakan keuangan prudent.

Lebih lanjut, Assistant Vice President Moody’s Ratings Anthony Prayugo mengatakan, perubahan outlook tersebut mencerminkan meningkatnya ketidakpastian regulasi terkait alokasi kuota produksi batubara BYAN.


Baca Juga: Haji Isam Beli 10 Miliar Saham BYAN, Segini Nilainya Jika Pakai Harga Pasar

Seperti diketahui, BYAN telah menyatakan force majeure pada 14 September 2026 atas kewajiban pasokan batubara. Keputusan tersebut menyusul keterlambatan persetujuan pemerintah Indonesia atas revisi kenaikan kuota produksi pertambangan tahunan.

Prayugo menjelaskan, tanpa revisi kuota tersebut, pihaknya memperkirakan produksi emiten milik Low Tuck Kwong ini akan turun menjadi sekitar 39 juta metrik ton (MT) pada 2026, dari sekitar 68 juta MT pada tahun sebelumnya.

“BYAN memiliki metrik kredit yang tetap kuat berkat neraca tanpa utang, tetapi ketidakpastian persetujuan kuota yang berlanjut menimbulkan risiko terhadap kemampuan perusahaan mencapai pertumbuhan produksi,” kata Prayugo.

Moody’s bilang, sekalipun kuota produksi pada akhirnya dinaikkan, proses persetujuan tahunan yang tidak pasti membuat visibilitas terhadap kemampuan BYAN meningkatkan produksi menjadi lebih terbatas.

Prayugo menyebut, kondisi tersebut dinilai dapat menghambat kemampuan BYAN merencanakan produksi, memenuhi kewajiban pengiriman berdasarkan kontrak secara konsisten, serta mencapai pertumbuhan laba dan arus kas seperti yang sebelumnya diproyeksikan.

Apabila permintaan revisi kuota tidak memperoleh persetujuan, Moody’s memperkirakan EBITDA Bayan turun menjadi sekitar US$ 700 juta pada akhir 2026, dari sekitar US$ 1,1 miliar di tahun buku 2025.

 
BYAN Chart by TradingView

Penurunan EBITDA tersebut terutama disebabkan oleh volume penjualan yang lebih rendah. Jika produksi tetap sekitar 39 juta MT pada 2027, EBITDA BYAN diperkirakan kembali turun menjadi sekitar US$ 400 juta–US$ 500 juta.

Prayogi menjelaskan, estimasi tersebut menggunakan asumsi harga jual rata-rata sebesar US$ 48 per MT, yang berada di bawah perkiraan harga jual terealisasi BYAN pada 2026. Proyeksi itu juga berada jauh di bawah ekspektasi sebelumnya.

Moody’s sebelumnya memperkirakan EBITDA Bayan dapat mencapai sekitar US$ 1 miliar per tahun dengan asumsi produksi terus bertumbuh menuju kapasitas penuh sekitar 80 juta MT dalam beberapa tahun mendatang.

Meski menghadapi tekanan terhadap produksi dan kinerja keuangan, Moody’s mengatakan, metrik kredit BYAN masih sangat kuat. BYAN diperkirakan dapat membiayai belanja modal melalui arus kas internal sehingga kebutuhan tambahan utang tetap terbatas.

Baca Juga: Penawaran SR025 Berakhir, Dana Dihimpun Tembus Rp 29,77 Triliun dari 93.548 Investor

Dengan kondisi tersebut, Moody’s memperkirakan rasio utang terhadap EBITDA yang disesuaikan akan tetap di bawah 0,5 kali dalam dua tahun ke depan. Likuiditas BYAN juga diproyeksikan tetap sangat baik selama 18 bulan mendatang.

Per akhir Juni 2026, BYAN memiliki sekitar US$ 650 juta fasilitas modal kerja berkomitmen dari perbankan yang belum ditarik. Prayugo menyebut kas internal dan arus kas operasi juga dinilai cukup untuk membiayai capex serta pembayaran dividen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: