KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lembaga pemeringkat kredit Moody’s Ratings merevisi outlook peringkat kredit Indonesia menjadi negatif, namun tetap mempertahankan peringkat investment grade Baa2. Perubahan outlook ini terjadi di tengah upaya pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui belanja sosial yang lebih tinggi, sekaligus menjaga komitmen terhadap kerangka fiskal dan moneter. Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Jefrrosenberg Chenlim dalam riset 6 Februari 2026 menilai dampak revisi outlook tersebut tidak akan terlalu signifikan terhadap pasar saham. Menurutnya, sejak Indonesia kembali memperoleh status investment grade, belum ada preseden historis yang jelas untuk mengukur secara terpisah dampak perubahan outlook negatif atau penurunan peringkat sovereign terhadap pasar. “Dampaknya kemungkinan lebih terasa di pasar valuta asing, obligasi global Indonesia, serta obligasi pemerintah dan korporasi domestik, dibandingkan ke pasar ekuitas,” ujar Jefrrosenberg. Meski demikian, ia memperkirakan volatilitas jangka pendek masih akan berlanjut, diperparah oleh aksi jual pasar pasca hasil konsultasi MSCI yang kurang menguntungkan serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi harga minyak.
Moody's Revisi Outlook Indonesia Jadi Negatif, Analis Sarankan Buy On Weakness
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lembaga pemeringkat kredit Moody’s Ratings merevisi outlook peringkat kredit Indonesia menjadi negatif, namun tetap mempertahankan peringkat investment grade Baa2. Perubahan outlook ini terjadi di tengah upaya pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui belanja sosial yang lebih tinggi, sekaligus menjaga komitmen terhadap kerangka fiskal dan moneter. Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Jefrrosenberg Chenlim dalam riset 6 Februari 2026 menilai dampak revisi outlook tersebut tidak akan terlalu signifikan terhadap pasar saham. Menurutnya, sejak Indonesia kembali memperoleh status investment grade, belum ada preseden historis yang jelas untuk mengukur secara terpisah dampak perubahan outlook negatif atau penurunan peringkat sovereign terhadap pasar. “Dampaknya kemungkinan lebih terasa di pasar valuta asing, obligasi global Indonesia, serta obligasi pemerintah dan korporasi domestik, dibandingkan ke pasar ekuitas,” ujar Jefrrosenberg. Meski demikian, ia memperkirakan volatilitas jangka pendek masih akan berlanjut, diperparah oleh aksi jual pasar pasca hasil konsultasi MSCI yang kurang menguntungkan serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi harga minyak.
TAG: