Moody’s Turunkan Outlook Indonesia, Pasar Modal Waspadai Risiko Kebijakan



KONTAN.CO.ID  - JAKARTA. Penurunan outlook peringkat kredit Indonesia oleh Moody’s Ratings menjadi perhatian serius bagi pelaku pasar modal, meski status investment grade tetap dipertahankan di level Baa2.

Dalam pernyataan resminya pada 5 Februari 2026, Moody’s menyebut penurunan outlook dari stabil menjadi negatif didorong oleh menurunnya prediktabilitas kebijakan dan kualitas tata kelola pemerintahan.

Jika berlanjut, kondisi tersebut dinilai dapat menggerus kredibilitas kebijakan yang selama ini menjadi penopang stabilitas makroekonomi, fiskal, dan sistem keuangan Indonesia.


Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai Indonesia belum kehilangan kelayakan investasi, namun tingkat risiko meningkat terutama dari sisi tata kelola dan kepastian kebijakan.

Menurutnya, dampak utama penurunan outlook ini lebih terasa pada psikologi pasar dan peningkatan risk premium, bukan pada pelemahan fundamental ekonomi jangka pendek.

Baca Juga: Airlangga: Cegah “Goreng Saham”, Transparansi Pasar Modal Harus Diperkuat

Investor global berpotensi meminta imbal hasil lebih tinggi, yang dapat tercermin pada kenaikan yield SBN tenor panjang dan pelebaran spread obligasi.

Di pasar saham, tekanan berpeluang muncul melalui selective selling, terutama pada saham berkapitalisasi besar dan emiten BUMN yang mencerminkan kepercayaan investor terhadap negara.

Saham bank BUMN dan emiten strategis dinilai lebih rentan karena investor mulai memperhitungkan risiko kebijakan dividen, dominasi peran negara, hingga potensi kewajiban kontinjensi.

Meski demikian, tekanan tersebut lebih mencerminkan penyesuaian valuasi terhadap risiko, bukan perubahan signifikan pada prospek bisnis emiten secara fundamental.

Dalam jangka pendek, IHSG dinilai rentan terkoreksi dan berpotensi menguji area psikologis 8.000, dengan support berikutnya di kisaran 7.888 dan resistance di area 8.200.

Tonton: ESDM Targetkan Groundbreaking 34 PLTSa Pertengahan 2026, Olah 1.000 Ton Sampah/Hari

Kekhawatiran Indonesia turun kelas menjadi frontier market oleh MSCI dinilai masih relatif kecil karena klasifikasi lebih ditentukan oleh likuiditas dan aksesibilitas pasar.

Hendra menegaskan, langkah Moody’s ini lebih tepat dibaca sebagai peringatan dini agar pemerintah memperkuat koordinasi kebijakan dan menjaga kepercayaan investor.

Bagi investor, volatilitas pasar justru membuka peluang akumulasi selektif pada saham berfundamental kuat, defensif terhadap risiko kebijakan, dan memiliki arus kas solid.

KPK Sita Uang Miliaran dan Logam Mulia 3 Kg saat OTT Pejabat Ditjen Bea Cukai
© 2026 Konten oleh Kontan

Selanjutnya: Tempimpit dari Dua Sisi, Bisnis Unitlink Masih Perlu Beradaptasi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: