KONTAN.CO.ID - Moody’s Ratings (Moody’s) memperkirakan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) riil Indonesia akan bertahan di kisaran 5% dalam jangka pendek hingga menengah. Di sisi fiskal, defisit anggaran diproyeksikan tetap terjaga di bawah batas 3% terhadap PDB.
Defisit APBN Bergantung pada Pengendalian Belanja
Untuk menjaga defisit APBN tetap berada dalam batas tersebut, Moody’s menilai pemerintah perlu mengendalikan realisasi belanja negara. Pasalnya, meningkatnya peran belanja pemerintah sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi berpotensi menimbulkan tekanan fiskal.
Terlebih, basis penerimaan negara Indonesia masih relatif terbatas. “Kemajuan yang terbatas dalam memperluas basis pajak meningkatkan risiko defisit fiskal yang lebih besar dari waktu ke waktu, terutama karena pemerintah memperluas program sosial, termasuk inisiatif terkait ketahanan pangan dan perumahan terjangkau,” tulis Moody’s dalam keterangan resminya, Selasa (24/2/2026). Artinya, ekspansi belanja tanpa diimbangi peningkatan penerimaan berkelanjutan dapat mempersempit ruang fiskal ke depan.
Baca Juga: Indonesia Impor Beras AS Pertama Kali: Mengapa Sekarang & Apa Alasannya? Rasio Utang Stabil di Kisaran 40% PDB
Moody’s juga memperkirakan rasio utang pemerintah Indonesia akan tetap stabil di sekitar 40% terhadap PDB. Angka ini masih lebih rendah dibandingkan median negara dengan peringkat kredit Baa. Namun, stabilitas tersebut sangat bergantung pada konsistensi disiplin fiskal, khususnya kepatuhan terhadap batas defisit 3% dari PDB. Di sisi lain, kapasitas pembayaran utang dinilai masih dibatasi oleh rendahnya basis pendapatan negara. Kondisi ini membuat fleksibilitas fiskal Indonesia relatif sempit dan lebih sensitif terhadap perubahan sentimen pasar.
Risiko Tata Kelola dan Danantara
Moody’s juga menyoroti ketidakpastian terkait pembiayaan dan tata kelola Danantara. Lembaga tersebut dinilai berpotensi meningkatkan risiko terhadap kredibilitas kebijakan serta menimbulkan kewajiban kontinjensi bagi negara. Hal ini terutama mengingat kewenangan Danantara dalam mengelola aset BUMN serta menjalankan agenda investasi yang ambisius. “Meskipun demikian, kami berasumsi bahwa pengembangan kelembagaan lebih lanjut akan memberikan kejelasan yang lebih besar seputar tata kelola dan operasi Danantara dari waktu ke waktu,” tulis Moody’s.
Baca Juga: Kapan Pencairan THR ASN/TNI/Polri? Ini Jawaban Menkeu Purbaya Prospek Negatif dan Tantangan Kredibilitas Kebijakan
Moody’s menambahkan, prospek negatif juga mencerminkan menurunnya prediktabilitas dalam proses perumusan kebijakan. Jika berlanjut, kondisi ini berisiko melemahkan efektivitas kebijakan serta menurunkan kualitas tata kelola. “Jika berlanjut, tren ini dapat mengikis kredibilitas kebijakan Indonesia yang telah lama mapan, yang telah mendukung pertumbuhan ekonomi yang solid dan stabilitas makroekonomi, fiskal, dan keuangan,” tandasnya. Ke depan, konsistensi kebijakan fiskal dan penguatan basis pajak akan menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi dan peringkat kredit Indonesia.
Tonton: Prabowo Terbang ke Inggris Saksikan Kerjasama Danantara Arm di Sektor Semikonduktor Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News