Morgan Stanley Prediksi Koreksi Bursa Saham AS Segera Berakhir



KONTAN.CO.ID - Koreksi pasar saham Amerika Serikat (AS) yang berlangsung sejak Juni 2026 diperkirakan segera berakhir.

Strategis Morgan Stanley menilai, pasar saham Negeri Paman Sam telah memasuki fase akhir koreksi, sehingga membuka peluang bagi investor untuk kembali meningkatkan eksposur pada saham-saham berkualitas.

Mengutip Reuters, Senin (2/11/2026), tim strategis Morgan Stanley yang dipimpin Kepala Strategi Ekuitas AS Michael Wilson menyebut sejumlah katalis dalam waktu dekat berpotensi memberikan kesempatan menarik bagi investor untuk menambah investasi pada saham-saham siklikal berkualitas yang mengalami penurunan valuasi menjelang 2027.


Baca Juga: Iran Buka Peluang Perundingan Damai, Harga Minyak Dunia Merosot 6%

Salah satu katalis yang menjadi perhatian adalah pemilihan paruh waktu atau midterm elections AS pada 3 November 2026.

Hasil pemilu tersebut diperkirakan dapat menghilangkan salah satu ketidakpastian yang selama ini membayangi pasar saham.

Morgan Stanley mencatat, saham-saham berkapitalisasi besar secara historis cenderung menguat sekitar 15% dalam enam bulan setelah hasil pemilu paruh waktu diumumkan.

Sementara itu, kemenangan Partai Demokrat di kedua kamar Kongres atau Democratic sweep dinilai telah diperhitungkan oleh investor.

Meski demikian, Wilson menilai koreksi pasar saham AS saat ini juga mencerminkan pelemahan yang semakin meluas di pasar. Indeks S&P 500 mulai mengejar pelemahan yang lebih dulu terjadi pada saham-saham lainnya.

Baca Juga: Manufaktur Inggris Menguat, Namun Kenaikan Biaya Produksi Membayangi

Menurut dia, kondisi tersebut biasanya menjadi tahap akhir dari sebuah koreksi pasar. Sekitar 60% saham yang tergabung dalam indeks Russell 3000 bahkan telah mengalami koreksi setidaknya 20% sejak Juni lalu.

Tekanan pasar sebelumnya juga dipicu kekhawatiran terhadap kinerja perusahaan teknologi, terutama emiten yang menggelontorkan belanja besar untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI).

Pada bulan lalu, indeks Nasdaq-100 yang didominasi saham teknologi kehilangan nilai kapitalisasi pasar hingga triliunan dolar AS dan nyaris memasuki wilayah koreksi.

Namun, Morgan Stanley melihat perkembangan laporan keuangan terbaru mulai memperkuat indikasi bahwa koreksi pasar berpotensi mendekati akhir.

Wilson mengatakan, investor kini semakin memperhatikan kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas bebas atau free cash flow (FCF).

Baca Juga: Hacker Serang Sistem Pendingin Supermarket di Eropa, Suhu Freezer Tembus 50 Derajat

Investor tidak lagi mengabaikan kekurangan arus kas seperti yang kerap terjadi pada fase awal siklus pasar.

Menurut dia, kondisi tersebut sejalan dengan karakteristik fase pertengahan hingga akhir siklus pasar, ketika keberlanjutan laba dan kemampuan perusahaan mengonversi laba menjadi arus kas menjadi semakin penting.

Meski prospek pasar dinilai membaik, Morgan Stanley mengingatkan bahwa risiko belum sepenuhnya hilang setelah pemilu AS.

Potensi eskalasi militer baru dengan Iran maupun penerapan tarif impor tambahan dapat kembali menekan sentimen investor.

Dari sisi kebijakan moneter, Wilson juga tidak memperkirakan Federal Reserve (The Fed) akan terburu-buru memangkas suku bunga atau memberikan dukungan tambahan bagi pasar keuangan.

Baca Juga: Freezer Supermarket di Swedia Mendadak Panas, Diduga Akibat Serangan Siber

Sebagai alternatif, ruang likuiditas berpotensi datang dari pemerintah AS melalui pengurangan saldo kas Departemen Keuangan AS.

Morgan Stanley memperkirakan saldo kas tersebut dapat turun dari sekitar US$ 1,05 triliun menjadi US$ 850 miliar pada akhir tahun.