KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah akan meluncurkan Program Motor Listrik Nasional pada 13 Agustus 2026. Program ini dinilai berpotensi memperkuat industri dan ekosistem motor listrik di Indonesia. Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI) Budi Setiyadi mengatakan, persaingan motor listrik nasional dengan merek asal China tidak hanya ditentukan oleh harga. Menurutnya, harga motor listrik merek Indonesia dan China saat ini relatif berdekatan. “Persaingan sekarang menurut saya, harga antara merek-merek China dengan merek Indonesia itu justru hampir sama. Merek Indonesia juga punya
marketing yang sangat menarik dan marketnya cukup bagus,” kata Budi kepada KONTAN, Rabu (12/8/2026).
Budi menilai produk motor listrik asal China yang membangun industri di Indonesia, juga memberikan manfaat ekonomi melalui penyerapan tenaga kerja, kegiatan perakitan, dan penggunaan komponen lokal.
Baca Juga: LRT City Tak Kunjung Rampung, Danantara Akhirnya Turun Tangan Menurutnya, industri sepeda motor saat ini dituntut memenuhi tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sebesar 40%. Ketentuan tersebut akan meningkat menjadi 60% pada tahun depan. Meski demikian, Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah dalam membangun komponen utama motor listrik. Indonesia sudah mampu melakukan pengemasan baterai di dalam negeri, tetapi sel baterai masih banyak berasal dari China. Untuk Motor Listrik Nasional, Budi belum mengetahui angka TKDN secara spesifik. Namun, ia menilai status sebagai produk nasional seharusnya diikuti peningkatan penggunaan komponen lokal secara bertahap, termasuk R&D dan komponen utama. “Karena kata nasional itu pasti akan menjadi jaminan bahwa ini akan lebih besar komponen lokalnya. Bahkan kalau bisa semuanya bikinan Indonesia, R&D-nya, komponen utamanya, dan sebagainya,” ujarnya. Dari sisi harga, Budi memperkirakan motor listrik segmen rata-rata berada di kisaran Rp 20 juta. Sementara kelas super hingga premium dapat mencapai lebih dari Rp 40 juta. Harga tersebut bergantung pada teknologi, kemampuan baterai, dan fitur yang digunakan. Terkait produsen serta target produksi Motor Listrik Nasional, Budi mengaku belum mengetahui detailnya. Informasi tersebut kemungkinan baru diketahui saat peluncuran pada 13 Agustus.
Baca Juga: Mobil Mewah Ikonik China Hongqi Masuk Pasar Otomotif Indonesia, Gandeng Indomobil Budi menilai insentif pemerintah masih diperlukan untuk mendorong industri dan permintaan motor listrik. Insentif dapat berbentuk fiskal maupun non fiskal, termasuk bantuan pembelian atau subsidi. Ia menyebut bantuan pembelian pada 2023–2024 cukup mendorong penjualan motor listrik. Elektrifikasi sepeda motor juga berpotensi mengurangi konsumsi BBM sehingga dapat menekan kebutuhan subsidi energi. Lebih lanjut, Budi menilai Program Motor Listrik Nasional tidak hanya akan berdampak pada produsen yang terlibat. Program tersebut juga berpotensi mengangkat industri motor listrik yang sudah ada.
“Dengan adanya Motor Listrik Nasional, manfaatnya bisa untuk industri motor listrik yang sekarang sudah ada. Infrastruktur
charging, bengkel, dan pendanaan juga pasti akan terbentuk,” kata Budi. Menurutnya, terbentuknya ekosistem tersebut dapat meningkatkan permintaan motor listrik. Kenaikan permintaan yang kemudian mendorong produsen meningkatkan produksi serta kebutuhan tenaga kerja. Budi berharap kebijakan pemerintah juga memberikan ruang, bagi produsen motor listrik yang sudah ada untuk tumbuh bersama. Dengan begitu, program nasional tidak hanya menguntungkan satu produk atau produsen, tetapi memperkuat industri motor listrik secara keseluruhan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News