Mou Hilirisasi Indonesia-Swiss: Pemberdayaan SDA, Teknologi dan Pendanaan



KONTAN.CO.ID - BASEL. Ulang tahun ke-75 hubungan diplomatik Indonesia-Swiss di tahun 2026 ini, memperoleh kado spesial. Bertempat di Congress Center Basel, Swiss, Selasa (23/6), Duta Besar RI untuk Swiss dan Liechtenstein I Gede Ngurah Swajaya menandatangani nota kesepahaman memorandum of understanding (MoU) pengelolaan mineral dan logam dengan pemerintah Swiss yang diwakili  Andrea Rauber Saxer, Ambassador, Head of The Bilateral Economic Relations Divisions Swiss.

Penandatanganan MoU tersebut disaksikan Presiden Swiss, Guy Parmelin. Dalam wawancara khusus dengan para jurnalis dari Grup Media Kompas, Parmelin mengatakan, hubungan kerja sama Indonesia dan Swiss, merupakan kerja sama yang saling melengkapi dan bertujuan untuk menguntungkan kedua belah pihak.

Indonesia, lanjut Parmelin, memiliki posisi strategis dalam hal penguasaan sumber daya alam penting, yakni logam dan mineral. "Swiss miskin akan bahan baku. Sedangkan Indonesia ingin mengembangkan hilirisasi agar memiliki nilai tambah, dan Swiss memiliki teknologinya," tutur Parmelin.


Baca Juga: Sumber Daya Migas Baru Dominan di Laut Dalam, Butuh Investasi Tiga Kali Lipat

Namun, kerangka kerja sama tersebut tidak semata bicara soal hiliriasi, namun juga pengembangan sumber daya manusia (SDM). "Kedua negara bekerja sama dan berupaya untuk lebih mengembangkan hubungan ekonomi, politik, dan pendidikan mereka, khususnya di bidang magang dan pelatihan kejuruan," sebut Parmelin.

Sementara itu, Ngurah Swajaya mengatakan, MoU ini merupakan hasil dari kunjungan Parmelin pada bulan Oktober 2025 silam, yang kala itu masih menjabat sebagai wakil Presiden. Saat itu, Parmelin bertemu dengan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani.

Kedua pihak sepakat menyusun kerja sama dalam rangka membantu Indonesia terkait dengan dilirisasi mineral dan juga metal. Swiss tahu bahwa Indonesia memiliki sumber daya alam, mineral, termasuk juga metal yang perlu diolah.

"Swiss memiliki teknologi, memiliki inovasi dan juga memiliki sumber pendanaan. Oleh karena itu, ini merupakan suatu kombinasi yang pas. Dan kami memang mengambil momentum 75 tahun hubungan bilateral Indonesia-Swiss untuk penandatanganan MoU ini," tandas Ngurah Swajaya.

Kata Ngurah Swajaya, mengutip pidato sambutan Presiden Swiss pada pembuakaan acara tersebut, kebijakan Pemerintah Swiss adalah melakukan diversifikasi dan tidak mau tergantung pada mitra tradisional yang besar (China) selama ini.

"Kaitannya dengan MoU tadi adalah dalam memperkuat ketahanan rantai pasok industri global di Indonesia," imbuh Ngurah Swajaya. Ketika bicara mengenai diversifikasi, sudah tentu Indonesia salah satu prioritas, khususnya dalam kerangka ASEAN dengan pangsa pasar ASEAN mencakup 700 juta penduduk.

Baca Juga: Kemenkes Percepat Hilirisasi Industri Kesehatan, Kurangi Ketergantungan Impor

Swiss membutuhkan mitra yang besar seperti Indonesia. Ini merupakan strategi ekspansi Swiss di kancah global.

Seperti kata Martin Hirzel Presiden Swissmem, saat membuka forum 19th Swissmem Industry Day: Kekuatan yang lebih besar tidak selalu menang; seringkali, ide yang lebih baiklah yang menentukan. Kekuatan tidak selalu memaksa kemenangan; biasanya, strategi yang lebih baiklah yang menang. Dan bukan selalu kekuatan kasar yang menentukan, melainkan keberanian untuk mengambil jalan yang berbeda.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News