KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Eddy Soeparno menyoroti ironi sektor energi nasional yang dinilai masih sangat bergantung pada pasokan luar negeri. Padahal, kata Eddy, Indonesia menyimpan potensi sumber daya energi fosil maupun energi baru terbarukan (EBT) dalam jumlah yang amat melimpah hingga puluhan tahun ke depan. Eddy menilai, sektor ketenagalistrikan saat ini masih menjadi penyumbang terbesar ketergantungan pada bahan bakar fosil. Pemanfaatan pembangkit listrik berbasis batubara mendominasi porsi penggunaan harian di masyarakat.
Baca Juga: Motor Listrik Nasional Perlu Perkuat Industri Komponen Lokal "Bagi saya, transisi energi itu merupakan keniscayaan. Karena hari ini kita masih sangat bergantung pada energi-energi fosil. Lampu, AC yang kita gunakan, kipas kita di rumah, itu 60% sumber listriknya dari batubara hari ini," ujarnya dalam acara Kompas.com Talks: Reformasi Subsidi Energi, Jakarta, Selasa (21/7). Eddy mengungkapkan, Indonesia ditopang oleh potensi energi terbarukan hingga 3.600 gigawatt (GW) beserta cadangan fosil yang melimpah. Produksi batubara nasional bahkan mencapai 800 juta ton per tahun dengan cadangan yang diproyeksikan bertahan lebih dari satu abad. "Tetapi di tengah kemewahan sumber energi fosil dan sumber energi terbarukan yang kita punya, hari ini kebutuhan energi kita dari mana? Dari impor," tegasnya. Di sisi lain, Eddy menyoroti, tingginya ketergantungan pada impor minyak mentah dan
Liquefied Petroleum Gas (LPG) menguras devisa negara sekaligus membengkakkan beban subsidi. Ia membeberkan, impor minyak mentah mencapai 1 juta barel per hari dan impor LPG memenuhi sekitar 80% dari total kebutuhan harian nasional. "Kita impor 1 juta barrel minyak mentah per hari, kita impor LPG 3 kg, LPG itu kita impor, kita kebutuhannya 8 juta kiloliter per tahun, 80% kita impor. Sudah kita impor, keluar devisa, kita subsidi. Jadi ini bebannya luar biasa besarnya," jelasnya. Eddy menekankan, kini percepatan bauran energi bersih dinilai penting untuk menjaga iklim investasi dan daya saing ekonomi nasional di mata global. Menurutnya, banyak investor internasional mulai mewajibkan ketersediaan pasokan listrik ramah lingkungan sebagai syarat utama menanamkan modalnya. "Karena apa? Dari aspek investasi, ekonomi secara umum, ini juga penting. Orang kalau mau investasi di Indonesia, mereka akan lihat. Saya mau investasi di Indonesia tapi ada gak ya energi bersihnya, energi hijaunya? Soalnya kalau saya tidak menggunakan energi hijau, saya gak bisa investasi," lanjutnya.
Lebih lanjut, Eddy menambahkan, ketersediaan energi terbarukan juga menjadi pendorong penting agar produk-produk hasil ekspor asal Indonesia tidak terbebani oleh mekanisme pajak karbon internasional di negara tujuan. "Dan bagi Indonesia juga repot, kalau kita tidak memiliki sumber-sumber energi terbarukan untuk proses dan metode pengolahan barang dan produk kita, ekspor kita di luar negeri juga gak kompetitif. Karena apa? Kena C-bank, kena pajak karbon di luar negeri," pungkasnya.
Baca Juga: Bahlil Ungkap Impor Minyak dari Rusia Tahap Pertama Telah Dilakukan Melalui Lemigas Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News