KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan, jika diperlukan, penyedia indeks global itu dapat menggunakan data keterbukaan pemegang saham 1% untuk menyesuaikan estimasi
free float. Namun, MSCI tidak akan memasukkan data dari sumber dan keterbukaan data kepemilikan di atas 1% ke dalam penilaian free float atau perhitungan indeksnya sampai tinjauan selesai dan
feedback dari pelaku pasar telah diterima dan dinilai. Head of Investment Information Team Mirae Asset Sekuritas Martha Christina mencermati, jika data kepemilikan 1% akan terjadi penyesuaian pada Foreign Inclusion Factor (FIF).
“Kalau ada penurunan FIF, yang paling terpengaruh adalah saham dengan bobot terbesar di indeks, yaitu
BBCA dan
BBRI yang sudah mencatatkan
outflow hampir Rp 21 triliun,” katanya dalam paparan, Selasa (21/4/2026).
Baca Juga: Investor Asing Selektif, Persepsi Risiko Investasi SBN Turun Saat Yield Stabil Dalam hitungan Tim Riset Mirae Asset Sekuritas, FIF saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) berpotensi turun masing-masing sebesar 2,5%.
Saat ini, FIF BBCA berada di level 45% dengan FIF adjusted market cap mencapai Rp 357,8 triliun. Jika data kepemilikan 1% digunakan, maka FIF baru saham BBCA berada di level 42,5% dan FIF adjusted market cap menjadi Rp 337,9 triliun. Kemudian FIF BBRI dari 45% akan menyusut menjadi 42,5%. Dalam hitungan Mirae Asset Sekuritas, FIF
adjusted market cap BBRI juga akan terpangkas dari Rp 227,1 triliun menjadi Rp 214,5 triliun. Menurut Martha, pengelola dana aktif alias
active fund manager sudah mulai melakukan
rebalancing untuk mengantisipasi penyesuaian besaran FIF. Ini juga akan berpengaruh pada bobot Indonesia dari 0,9% menjadi 0,8%. “Kalau ada penurunan bobot secara keseluruhan dan dua saham yang masuk
high shareholding concentration dikeluarkan, bobot Indonesia berpotensi turun dari 0,9% menjadi 0,8% dengan potensi
outflow US$ 1 miliar,” ucap dia.
Martha menyarankan, investor untuk menghindari saham yang berpotensi didepak karena status HSC, yakni PT Barito Renewables Energy Tbk (
BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (
DSSA). “Walaupun tidak sebesar BBCA dan BBRI, outflow akan tetap terjadi pada BREN dan DSSA sehingga sebaiknya dihindari. Sementara untuk big banks, penurunan bisa jadi peluang
buy on deep,” jelas Martha. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News