MSCI Bikin Harga Saham Anjlok, Harta Kekayaan 3 Orang Terkaya RI Hilang Rp 106 T
Rabu, 21 Oktober 2026 17:24 WIB
Oleh: Adi Wikanto | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Jakarta. Kekayaan tiga orang terkaya di Indonesia menyusut total US$ 5,9 miliar atau sekitar Rp 106,2 triliun setelah pasar saham domestik mengalami tekanan hebat akibat ancaman penurunan status pasar Indonesia oleh penyedia indeks global MSCI. Ketiga konglomerat tersebut adalah Robert Budi Hartono, Prajogo Pangestu, dan Low Tuck Kwong. Penurunan kekayaan mereka terjadi di tengah aksi jual saham yang memicu kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam dua hari perdagangan. MSCI pada 15 Oktober 2026 mengumumkan konsultasi atas usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market atau pasar negara berkembang menjadi standalone market. Keputusan final mengenai usulan tersebut dijadwalkan diumumkan paling lambat akhir Juni 2027. MSCI menilai masih terdapat persoalan transparansi kepemilikan saham dan dugaan perdagangan terkoordinasi di pasar modal Indonesia.
Baca Juga: Bareskrim Sita 6,4 Ton Beras Fortifikasi, Lima Merek Diduga Tak Sesuai Klaim Kekayaan Budi Hartono susut US$ 3,1 miliar Berdasarkan data real-time Forbes yang dikutip dalam laporan tersebut, kekayaan bersih Robert Budi Hartono turun menjadi US$ 12,4 miliar atau sekitar Rp 223,2 triliun. Sebelum aksi jual saham dimulai pada Jumat (16/10/2026), kekayaannya masih tercatat US$ 15,5 miliar atau sekitar Rp 279 triliun. Dengan demikian, kekayaan pemilik Grup Djarum tersebut menyusut US$ 3,1 miliar atau sekitar Rp 55,8 triliun. Di Bursa Efek Indonesia (BEI), Grup Djarum tercatat sebagai pengendali sejumlah saham besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), PT Global Digital Niaga Tbk (BELI), PT Remala Abadi Tbk (DATA), PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA), PT Supra Boga Lestari Tbk (RANC), dan PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR). Pada perdagangan Rabu 21 Oktober 2025, harga saham BBCA ditutup di Rp 5.275, naik 1,44% secara harian. Namun dua hari sebelumnya (19 Oktober 2026), harga saham BBCA anjlok ke Rp 4.820, terendah dalam lima tahun terakhir. Baca Juga: BI Pertahankan BI-Rate di Level 5,75% Pada RDG Oktober 2026 Harta Prajogo Pangestu hilang US$ 2,2 miliar Dua konglomerat lainnya juga mengalami penurunan kekayaan. Prajogo Pangestu kehilangan sekitar US$ 2,2 miliar atau setara Rp 39,6 triliun. Prajogo adalah pendiri Grup Barito yang memiliki saham di emiten PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Petrosea Tbk (PTRO) dan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA). Hampir semua harga saham Barito Grup anjlok pasca pengumuman MSCI. Sedangkan Low Tuck Kwong mengalami penyusutan kekayaan sekitar US$ 600 juta atau Rp 10,8 triliun. Di BEI, Low Tuck Kwong adalah pengendali saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dan PT Samindo Resources Tbk (MYOH). Dalam perdagangan lima hari terakhir, harga saham BYAN anjlok 9,27% menjadi Rp 10.275 pada akhir perdagangan Rabu 21 Oktober 2026. Jika digabungkan, penurunan kekayaan ketiganya mencapai US$ 5,9 miliar atau sekitar Rp 106,2 triliun, dengan asumsi kurs Rp 18.000 per dollar AS. Baca Juga: Ekonom CORE Soroti Risiko Pengalihan Bansos Barang ke Tunai IHSG tertekan ancaman penurunan status MSCI Tekanan terhadap kekayaan para konglomerat tersebut sejalan dengan pelemahan pasar saham Indonesia. Pada Jumat (16/10/2026), IHSG anjlok 11,6% setelah MSCI mengumumkan konsultasi atas usulan penurunan status pasar Indonesia. IHSG kembali melemah 3,6% pada Senin (19/10/2026). Menurut laporan Reuters, penurunan tajam pada Jumat menjadi kejatuhan harian terdalam dalam hampir tiga dekade, sejak krisis keuangan Asia pada 1998. Pelemahan tersebut juga membawa kinerja pasar saham Indonesia sepanjang tahun berjalan ke kisaran minus 40%. Ancaman penurunan status pasar menjadi perhatian investor karena perubahan klasifikasi dapat memengaruhi keberadaan saham Indonesia dalam indeks global MSCI. Kondisi ini berpotensi mendorong penyesuaian portofolio oleh investor internasional yang menggunakan indeks tersebut sebagai acuan investasi. MSCI sebelumnya telah menyampaikan kekhawatiran mengenai transparansi struktur kepemilikan saham dan dugaan perdagangan terkoordinasi. Persoalan tersebut dinilai dapat menyulitkan investor untuk mengukur jumlah saham yang benar-benar tersedia bagi publik atau free float. Baca Juga: BI Tarik Inflow Usai Pernyataan MSCI Soal Pasar Saham RI, Insentif Hedging Diperbesar Kekhawatiran transparansi kepemilikan saham Sejumlah emiten di Indonesia memiliki struktur kepemilikan saham yang terkonsentrasi pada pendiri, keluarga, atau kelompok usaha tertentu. Kondisi ini membuat porsi saham yang tersedia untuk diperdagangkan oleh publik menjadi salah satu perhatian dalam penilaian aksesibilitas pasar. Sepanjang 2026, regulator Indonesia telah mengumumkan sejumlah langkah perbaikan, termasuk peningkatan keterbukaan informasi pemegang saham, perincian klasifikasi investor, pelaporan konsentrasi kepemilikan saham, serta rencana peningkatan batas minimum free float menjadi 15%. Namun, MSCI menegaskan bahwa efektivitas kebijakan tersebut perlu terlihat secara konsisten di pasar. Dalam pengumuman pada Oktober, MSCI menyebut masih terdapat kekhawatiran mengenai dugaan perilaku perdagangan terkoordinasi dan belum memadainya bukti penegakan hukum yang efektif. Di tengah tekanan tersebut, regulator pasar modal Indonesia juga mengambil langkah untuk memperkuat pengawasan dan transparansi. Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan rencana mengeluarkan emiten dengan kepemilikan saham yang sangat terkonsentrasi dari indeks acuan. Tonton: IHSG Menguat Hari Ini (21 Oktober 2026) Para konglomerat tetap berekspansi ke luar negeri Di tengah gejolak pasar saham domestik, ketiga konglomerat tersebut tetap memiliki aktivitas bisnis dan investasi di luar negeri. Keluarga Hartono dilaporkan telah menginvestasikan sedikitnya US$ 1,4 miliar ke luar negeri hingga September 2026. Meski demikian, sebagian besar aset keluarga tersebut masih berada di Indonesia.
Sementara itu, Prajogo Pangestu melalui PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dilaporkan mengajukan penawaran senilai US$ 5 miliar pada Juli 2026 untuk mengakuisisi Energy Development Corp, perusahaan energi panas bumi asal Filipina. Selain itu, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) pada Agustus 2026 menyepakati pembelian bisnis jaringan diler mobil milik Jardine Cycle & Carriage di Malaysia dan Singapura senilai US$ 208 juta. Sebagian artikel telah tayang di https://www.kompas.com/tren/read/2026/10/21/131500065/kekayaan-3-miliarder-indonesia-tergerus-rp-106-triliun-imbas-peringatan?page=all#page2.
6 Perusahaan Kena Sanksi Karhutla, 7.531 Hektare Lahan Terbakar