MSCI Bikin Pasar Saham Tak Pasti, Mirae Asset Pilih Sejumlah Saham Ini



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mirae Asset Sekuritas menyarankan investor untuk tetap defensif dalam menyikapi ketidakpastian pasar saham Indonesia terkait evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI). Di tengah potensi tekanan arus dana asing, sekuritas ini memilih mengakumulasi saham secara bertahap, terutama emiten di luar indeks MSCI, alih-alih melakukan pembelian agresif.

Analis Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wibisono dalam riset pada Senin (19/10/2026) menyebut BRIS, ANTM, dan WINS sebagai sejumlah saham yang dapat dipertimbangkan untuk diakumulasi secara selektif. Sementara itu, BBCA tetap menjadi pilihan utama di sektor perbankan berdasarkan fundamental, sedangkan rekomendasi jual saham PTBA masih dipertahankan.

Strategi tersebut disampaikan setelah Mirae Asset mengikuti dialog antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan sejumlah pelaku pasar domestik pada 18 Oktober 2026.


Baca Juga: Usulan MSCI Picu Risiko Arus Keluar Dana Asing, Ini Dampaknya terhadap Obligasi RI

Dalam laporan risetnya, Mirae Asset menilai ketidakpastian terkait evaluasi MSCI masih dapat memengaruhi aliran dana asing ke pasar saham Indonesia. Potensi arus keluar dana pasif diperkirakan mencapai sekitar US$ 3 miliar, bergantung pada keputusan final MSCI dan tanggal implementasinya.

Namun, tekanan tidak harus menunggu keputusan resmi. Investor aktif dapat lebih dahulu mengurangi eksposur terhadap saham Indonesia apabila menilai risiko pasar meningkat. Karena itu, Mirae Asset memilih menjaga sikap defensif pada tingkat indeks dan mengurangi bobot investasi pada saham-saham berkapitalisasi besar dengan kepemilikan asing tinggi.

Di tengah strategi defensif tersebut, Mirae Asset melihat peluang pada saham-saham di luar indeks MSCI. BRIS, ANTM, dan WINS menjadi nama yang dipilih untuk diakumulasi secara bertahap.

Pendekatan ini bukan berarti investor disarankan langsung membeli dalam jumlah besar. Sebaliknya, akumulasi dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan ketidakpastian pasar dan potensi perubahan arus dana asing.

Strategi tersebut mencerminkan upaya untuk tetap mencari peluang investasi tanpa mengabaikan risiko volatilitas selama pasar menunggu kejelasan dari MSCI.

Mirae Asset juga menyoroti bahwa investor aktif berpotensi menyesuaikan portofolio lebih cepat daripada investor pasif. Dengan demikian, pergerakan dana asing dalam waktu dekat menjadi salah satu indikator yang perlu dicermati dalam menentukan momentum investasi.

Untuk sektor perbankan, Mirae Asset tetap memilih BBCA sebagai saham unggulan berdasarkan fundamental perusahaan.

Baca Juga: Penjualan SBR015 Tenor 2 Tahun Tembus 84,5%, Jauh Ungguli Tenor 4 Tahun

Rully menyarankan investor mengakumulasi saham BBCA ketika harga mengalami pelemahan. Pendekatan tersebut memberikan ruang bagi investor untuk memanfaatkan koreksi harga tanpa harus mengejar kenaikan di tengah kondisi pasar yang belum pasti.

Meski demikian, Mirae Asset tetap mempertahankan sikap defensif terhadap pasar secara keseluruhan. Pilihan terhadap BBCA didasarkan pada penilaian fundamental, sementara strategi masuk secara bertahap mempertimbangkan risiko pasar yang masih membayangi.

Di sisi lain, Mirae Asset tetap mempertahankan rekomendasi jual untuk saham PTBA. Dengan demikian, pandangan sekuritas ini tidak sepenuhnya positif terhadap seluruh saham di pasar, meskipun masih melihat peluang pada sejumlah emiten tertentu.

Sejumlah katalis pasar perlu dicermati

Ke depan, investor perlu mencermati beberapa agenda yang berpotensi memengaruhi pergerakan saham domestik. Agenda terdekat adalah pertemuan OJK dan BEI dengan MSCI pada 19 Oktober 2026, disusul RUPSLB BEI terkait demutualisasi pada 28 Oktober.

Selain itu, tinjauan MSCI pada November 2026 dan pembaruan indeks FTSE pada Desember juga berpotensi menjadi katalis bagi pasar.

Tekanan eksternal turut menjadi pertimbangan. Mirae Asset menyoroti imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat yang berada di atas 5%, rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS, serta ruang fiskal yang semakin terbatas.

Dalam kondisi tersebut, strategi Mirae Asset adalah mempertahankan posisi defensif terhadap indeks, mengurangi eksposur pada saham berkapitalisasi besar yang banyak dimiliki investor asing, serta mengakumulasi saham pilihan secara bertahap.

Bagi investor, pendekatan ini menekankan pentingnya disiplin dalam memilih saham dan menentukan waktu pembelian, sembari menunggu kejelasan mengenai arah reformasi pasar modal Indonesia dan dampaknya terhadap aliran dana asing.

Baca Juga: Entitas Grup Emtek, SCMA Bagi Dividen Interim Rp 533,43 miliar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News