KONTAN.CO.ID - Nilai tukar rupiah melemah dan pergerakan saham Indonesia cenderung berfluktuasi pada perdagangan Jumat (19/6/2026) setelah MSCI kembali menyoroti persoalan transparansi dan kelayakan investasi (
investability) pasar modal Indonesia. Melansir
Reuters dalam laporan terbaru, MSCI mengungkapkan kekhawatiran terkait keterbatasan informasi mengenai struktur kepemilikan saham serta indikasi perilaku perdagangan yang terkoordinasi di pasar.
Baca Juga: BYD hingga Zeekr Percepat Ekspansi ke Pasar Setir Kanan, Jepang Terancam Peringatan tersebut menambah tekanan bagi pasar keuangan Indonesia yang sejauh ini menjadi salah satu pasar saham utama dengan kinerja terburuk di dunia sepanjang tahun 2026. Sorotan MSCI muncul hanya beberapa hari menjelang keputusan penting terkait klasifikasi pasar Indonesia. Penyedia indeks global itu dijadwalkan mengumumkan hasil peninjauan status Indonesia pada pekan depan, termasuk kemungkinan penurunan status dari pasar berkembang (
emerging market) menjadi pasar perbatasan (
frontier market). Jika penurunan status tersebut terjadi, sejumlah analis memperkirakan dapat memicu arus keluar dana asing hingga US$ 13 miliar dari pasar keuangan domestik. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, investor asing telah mencatatkan aksi jual bersih saham Indonesia senilai sekitar US$ 3,65 miliar sepanjang tahun ini. Pada perdagangan Jumat pagi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak dalam rentang terbatas di sekitar posisi penutupan sebelumnya. Pergerakan tersebut terjadi setelah Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga acuannya untuk ketiga kalinya dalam satu bulan terakhir. Sementara itu, nilai tukar rupiah melemah ke level Rp 17.850 per dolar Amerika Serikat (AS), mendekati posisi terendah dalam sepekan terakhir.
Baca Juga: Harga Emas Terjun Bebas: Keputusan The Fed Kunci Pergerakan Selanjutnya Keputusan MSCI Jadi Sorotan Pelaku pasar kini menantikan hasil tinjauan klasifikasi pasar oleh MSCI yang akan diumumkan pekan depan. Jika Indonesia benar-benar diturunkan menjadi frontier market, dana-dana investasi pasif yang mengikuti indeks MSCI berpotensi melakukan penjualan aset secara otomatis. Selain itu, manajer investasi aktif yang menggunakan indeks MSCI sebagai acuan juga kemungkinan akan mengurangi eksposur mereka terhadap aset Indonesia. Dalam tinjauan tahunan aksesibilitas pasar (
market accessibility review), MSCI juga menyoroti kekhawatiran serupa terhadap pasar Turki. MSCI menurunkan penilaian pada aspek arus informasi (information flow) menjadi negatif akibat minimnya transparansi terkait struktur kepemilikan saham.
Baca Juga: Perdamaian AS-Iran Belum Mulus, Wapres AS Batalkan Pertemuan dengan Teheran Bursa Asia Bergerak Variatif
Di kawasan Asia, pasar saham Korea Selatan menjadi salah satu yang berkinerja terbaik. Indeks KOSPI melonjak 3,6% dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa, didorong oleh penguatan saham-saham produsen chip seperti Samsung Electronics dan SK Hynix. Kenaikan tersebut turut mendorong indeks MSCI Emerging Markets Asia mencapai rekor tertinggi baru. Sebaliknya, pasar saham Singapura melemah 0,5% setelah sebelumnya mencetak rekor tertinggi. Tekanan datang dari saham-saham perbankan besar seperti DBS Group, Oversea-Chinese Banking Corporation (OCBC), dan United Overseas Bank (UOB). Di negara lain, indeks saham Malaysia turun 0,3%, sedangkan pasar saham Filipina naik 0,6% sehari setelah bank sentral negara tersebut menaikkan suku bunga. Adapun pasar keuangan Taiwan tutup karena hari libur nasional.