KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indo Premier Sekuritas memperkirakan Morgan Stanley Capital International (MSCI) akan mempertahankan status pasar saham Indonesia dalam tinjauan indeks November 2026. Meski regulator telah melakukan sejumlah pembenahan untuk meningkatkan aksesibilitas pasar, MSCI diperkirakan belum akan mencabut pembekuan penambahan saham Indonesia ke dalam indeks maupun menaikkan foreign inclusion factor (FIF). Analis Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta dalam riset Selasa (13/10/2026) menilai, skenario utama atau base case dalam tinjauan indeks MSCI November 2026 adalah mempertahankan status quo. Pengumuman mengenai status pasar Indonesia diperkirakan berlangsung pada akhir Oktober atau awal November 2026. Ryan menjelaskan, regulator Indonesia telah menjalankan sejumlah inisiatif untuk merespons perhatian MSCI terhadap aksesibilitas pasar saham domestik. Salah satunya melalui perluasan daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau
high shareholding concentration (HSC), dari semula sembilan perusahaan menjadi 51 perusahaan.
Baca Juga: Bitcoin Berisiko Turun ke Bawah US$ 80.000, Ini Pemicunya Perluasan daftar tersebut dilakukan setelah penerapan metodologi price to impact ratio (PIR). Selain itu, regulator menghapus batas harga saham minimum Rp 50 per saham sehingga pembentukan harga saham dapat berlangsung lebih wajar, termasuk bagi saham yang sebelumnya tertahan pada level tersebut, seperti PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Perbaikan lainnya adalah konsistensi pengungkapan kepemilikan saham bulanan, termasuk data kepemilikan di atas 1% dan klasifikasi 39 kelompok investor. Menurut Ryan, transparansi tersebut menjadi salah satu aspek penting dalam meningkatkan aksesibilitas pasar Indonesia dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Meski demikian, Indo Premier menilai MSCI membutuhkan waktu lebih panjang untuk mengevaluasi konsistensi penerapan berbagai kebijakan tersebut. Pasalnya, sejumlah inisiatif baru diterapkan dalam kurun waktu satu hingga enam bulan terakhir. Karena itu, pencabutan pembekuan penambahan saham ke dalam indeks MSCI maupun kenaikan FIF dinilai belum menjadi skenario utama pada tinjauan November mendatang. Di sisi lain, kemungkinan penurunan status Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar frontier dinilai lebih kecil, mengingat regulator telah bergerak cepat merespons perhatian MSCI.
BRPT berpotensi keluar
Di tengah perkiraan status quo tersebut, Ryan menyebut potensi keluarnya sejumlah saham dari indeks MSCI Indonesia. Salah satu kandidatnya adalah PT Barito Pacific Tbk (BRPT), yang dinilai memiliki probabilitas menengah untuk dikeluarkan dari indeks MSCI Standard.
Baca Juga: Bibit Terus Perkuat Literasi Reksa Dana Ryan mengatakan, harga penutupan BRPT di bawah Rp 1.280 per saham selama periode evaluasi 19–30 Oktober 2026 berpotensi memicu penghapusan saham tersebut dari indeks. Sementara itu, peluang keluarnya PT United Tractors Tbk (UNTR) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dalam tinjauan November dinilai lebih rendah. Harga saham kedua emiten tersebut saat ini masih berada setidaknya 15%–20% di atas ambang minimum yang dibutuhkan untuk bertahan dalam indeks. Indo Premier mencatat, ambang harga saham untuk mempertahankan posisi UNTR berada di sekitar Rp 20.000 per saham, sedangkan BRMS di sekitar Rp 450 per saham. Saat ini, bobot MSCI Indonesia mencapai 0,42% dari MSCI Emerging Markets dengan sembilan saham konstituen. Apabila BRPT, UNTR, dan BRMS dikeluarkan dari indeks, bobot Indonesia diperkirakan turun lebih lanjut menjadi 0,38%.
Awas free float
Khusus UNTR, Indo Premier juga menyoroti aktivitas pembelian kembali saham atau buyback yang berpotensi memengaruhi perhitungan free float dan FIF oleh MSCI. Ryan menjelaskan, MSCI belum sepenuhnya menyesuaikan perhitungan free float UNTR setelah aksi buyback perseroan. Saat ini, free float atau FIF UNTR diperkirakan masih sekitar 32,5%, dibandingkan dengan sekitar 30% setelah memperhitungkan dampak
buyback.
Baca Juga: IHSG Terkoreksi 0,17% ke 5.925, Cek Saham yang Banyak Dijual Asing, Selasa (13/10) Aktivitas buyback yang berkelanjutan telah meningkatkan jumlah saham treasuri UNTR sepanjang tahun berjalan. Bahkan, volume buyback UNTR berkontribusi hingga sekitar 30% terhadap total volume perdagangan sahamnya pada Agustus 2026.
Menurut Ryan, kondisi tersebut membuka potensi penurunan free float UNTR ketika MSCI memperbarui perhitungan kepemilikan sahamnya pada tinjauan indeks mendatang. Dengan asumsi free float UNTR turun menjadi 27,5%, saham tersebut berpotensi dikeluarkan dari indeks apabila harganya turun di bawah Rp 24.000 per saham. Meski demikian, potensi penghapusan UNTR diperkirakan lebih relevan pada tinjauan MSCI berikutnya, setelah MSCI melakukan penyesuaian terhadap perhitungan free float saham tersebut. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News