KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Morgan Stanley Capital International (MSCI) memutuskan untuk mempertahankan status Indonesia sebagai pasar berkembang (emerging market) dalam MSCI Global Market Accessibility Review 2026 yang dirilis pada Jumat (19/6/2026). Keputusan tersebut membuat Indonesia terhindar dari risiko penurunan status menjadi frontier market. Namun demikian, pelaku pasar menilai hasil evaluasi MSCI tersebut belum cukup kuat untuk menjadi katalis positif baru bagi pasar keuangan domestik maupun penguatan nilai tukar rupiah. Hal ini tercermin dari pergerakan rupiah yang masih mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada penutupan perdagangan Jumat (19/6/2026), mata uang Garuda tercatat melemah sekitar 0,06% menjadi Rp 17.804 per dolar AS.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai keputusan MSCI lebih tepat dipandang sebagai upaya menghilangkan risiko negatif dibandingkan sebagai faktor yang dapat mendorong apresiasi aset-aset Indonesia.
Baca Juga: Rupiah Melemah Usai Kenaikan BI-Rate dan Pengumuman MSCI "Keputusan ini lebih berfungsi menghilangkan risiko negatif daripada menciptakan katalis penguatan bagi aset Indonesia," ujar Yusuf kepada Kontan, Jumat (19/6). Menurut Yusuf, pandangan tersebut sejalan dengan langkah Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate menjadi 5,75% pada Kamis (18/6). Kebijakan tersebut dinilai lebih bersifat defensif untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah setelah sempat menyentuh level Rp 18.000 per dolar AS. Selain mempertahankan klasifikasi Indonesia sebagai emerging market, MSCI juga menurunkan penilaian pada aspek information flow. Penurunan ini mencerminkan masih adanya perhatian terhadap transparansi kepemilikan saham serta kualitas mekanisme pembentukan harga di pasar modal Indonesia. Yusuf menilai evaluasi tersebut menunjukkan bahwa investor global kini semakin memperhatikan aspek tata kelola dan integritas pasar keuangan, tidak hanya indikator makroekonomi seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi, maupun tingkat suku bunga. Dalam jangka pendek hingga akhir tahun, Yusuf memperkirakan pergerakan rupiah masih berpotensi berada dalam tren pelemahan atau setidaknya bertahan pada level yang relatif tinggi terhadap dolar AS. Tekanan terbesar diperkirakan masih berasal dari faktor eksternal, terutama arah kebijakan moneter Amerika Serikat. "Meskipun The Fed saat ini mempertahankan suku bunga, peluang pengetatan lebih lanjut masih terbuka apabila inflasi belum turun sesuai target. Selama dolar AS tetap kuat dan imbal hasil aset dolar masih menarik, ruang penguatan rupiah cenderung terbatas," kata Yusuf.
Baca Juga: Hasil MSCI Global Market Accessibility Review 2026 Keluar, Begini Kata OJK Ia menjelaskan bahwa kenaikan BI-Rate memang dapat meningkatkan daya tarik instrumen berdenominasi rupiah melalui selisih suku bunga yang lebih lebar dibandingkan Amerika Serikat. Namun, dampaknya lebih dominan sebagai instrumen untuk menjaga stabilitas pasar keuangan daripada menjadi pemicu derasnya arus modal asing masuk ke Indonesia.
Menurut Yusuf, hingga saat ini pemulihan pasar keuangan domestik masih lebih banyak ditopang oleh investor lokal, sedangkan aliran dana asing belum memperlihatkan pembalikan arah yang konsisten. Ke depan, selain mencermati kebijakan The Fed, pergerakan dolar AS, serta perkembangan imbal hasil US Treasury, investor juga perlu memonitor posisi cadangan devisa Indonesia, intensitas intervensi Bank Indonesia di pasar valuta asing, kondisi fiskal nasional, hasil evaluasi MSCI berikutnya, serta penilaian dari lembaga pemeringkat kredit terhadap Indonesia. "Faktor global masih menjadi penentu utama arah rupiah dalam jangka pendek. Namun, faktor domestik akan menentukan seberapa kuat Indonesia mampu menahan tekanan eksternal dan menarik kembali arus modal asing saat kondisi global membaik," ujar Yusuf. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News