MSCI Picu Dana Asing Keluar, Rupiah Dinilai Tetap Terkendali



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto menilai evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) memang mendorong keluarnya investor asing dari pasar keuangan Indonesia, khususnya pasar saham.

Meski begitu, ia menyebut daya tarik pasar domestik masih cukup kuat sehingga peluang Indonesia terdegradasi menjadi frontier market relatif kecil.

Myrdal memperkirakan potensi arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia tidak akan terlalu besar. Berdasarkan akumulasi kepemilikan investor asing, nilai arus keluar diperkirakan tidak lebih dari US$ 4 miliar dan tidak akan memberikan tekanan signifikan terhadap nilai tukar rupiah.


“Potensi arus keluar dana asing di pasar saham diperkirakan tidak lebih dari US$ 4 miliar. Jika terjadi dalam jangka pendek, tentu menimbulkan turbulensi di pasar saham. Namun, dari sisi nilai tukar, dampaknya masih relatif terkendali,” ujar Myrdal kepada Kontan, Kamis (29/1/2026).

Baca Juga: Menkeu Purbaya Klaim Fondasi Ekonomi RI Kuat, Sentimen MSCI di Pasar Hanya Sementara

Tekanan di pasar saham tercermin dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melemah selama dua hari berturut-turut.

Pada penutupan perdagangan Kamis (29/1/2026), IHSG turun 1,06% ke level 8.232,20. Bahkan, pada sesi pagi, IHSG sempat anjlok hingga 8% sehingga Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan trading halt pada pukul 09.26 WIB.

Peristiwa tersebut menjadi trading halt kedua sepanjang Januari 2026. Sebelumnya, pembekuan perdagangan juga terjadi pada Rabu (28/1/2026) pukul 13.43 WIB akibat penurunan tajam IHSG.

Sementara itu, tekanan juga terlihat pada pergerakan rupiah. Pada perdagangan spot Kamis (29/1/2026), rupiah ditutup di level Rp 16.755 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,2% dibandingkan penutupan hari sebelumnya di Rp 16.722 per dolar AS.

Menurut Myrdal, gejolak pasar saham belakangan ini seharusnya menjadi peringatan bagi seluruh pemangku kepentingan pasar modal untuk melakukan pembenahan tata kelola dan aturan main, terutama terkait aktivitas perdagangan saham emiten.

Ia menilai aturan kepemilikan dan distribusi saham perlu dibenahi agar volatilitas pasar tidak berlebihan dan lebih mencerminkan kondisi fundamental.

“Masih ada emiten yang tergolong saham gorengan, dan ini menjadi salah satu perhatian MSCI. Ke depan, pasar modal perlu dibuat lebih sehat agar mencerminkan kondisi fundamental perusahaan,” ujarnya.

Dari sisi makroekonomi, Myrdal menilai fundamental Indonesia masih solid. Banyak perusahaan domestik memiliki kinerja yang kuat, valuasi relatif murah, serta prospek pertumbuhan yang menarik.

Selain itu, Indonesia merupakan negara besar dengan pendapatan per kapita kelas menengah dan masuk dalam 20 besar dunia dari sisi Produk Domestik Bruto (PDB).

“Kalaupun Indonesia nantinya dikategorikan sebagai frontier market, hal itu justru bisa menjadi kerugian bagi investor asing jika tidak masuk ke pasar domestik, karena Indonesia memiliki potensi ekonomi yang kuat,” ungkap Myrdal.

Baca Juga: IHSG Anjlok 8%, Pemerintah: Murni Karena Laporan MSCI

Ia menambahkan, potensi ekonomi Indonesia masih sangat besar, terutama dengan adanya upaya pemerintah dalam mendorong aktivitas ekonomi dan memperkuat fundamental makro.

Dari sisi nilai tukar, Myrdal menyebut stabilitas rupiah masih sangat bergantung pada pasokan dolar domestik yang berasal dari surplus perdagangan, arus investasi langsung asing (FDI) meskipun pertumbuhannya relatif lambat, serta aliran dana jangka pendek.

"Secara valuasi, rupiah masih tergolong undervalued dan masih memiliki potensi untuk menguat, selama kondisi surplus perdagangan tetap terjaga," ungkap Myrdal.

Di sisi lain, Myrdal menilai gejolak pasar saham saat ini diperkirakan tidak berdampak signifikan terhadap FDI. Pasalnya, pertumbuhan investasi langsung asing selama ini juga cenderung moderat, ditambah masih lebarnya jarak antara nilai proyek yang direncanakan dengan realisasi FDI di Indonesia.

Selanjutnya: Bahas Opsi Serangan terhadap Iran, Pejabat Saudi dan Israel Kunjungi Washington

Menarik Dibaca: 5 Pantangan saat Menghadapi Anak Tantrum, Ini Solusi agar Si Kecil Kembali Tenang

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News