MSCI Tendang 6 Saham Indonesia, Haruskah Investor Panik? Ini Kata Pakar



KONTAN.CO.ID - Pasar keuangan Indonesia kembali tertekan setelah pengumuman hasil rebalancing MSCI per 12 Mei 2026. Tekanan terjadi di pasar saham maupun pasar valuta asing.

Indeks saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dilaporkan anjlok hingga menyentuh level terendah dalam satu tahun, sementara nilai tukar rupiah mencetak rekor terlemah sepanjang masa.

Mengacu laporan Reuters, pada pukul 09.25 WIB, saham-saham di Jakarta turun hingga 1,7% dan menyentuh posisi terendah sejak akhir April 2025. Pada saat yang sama, rupiah melemah ke rekor terendah sepanjang masa di level Rp 17.535 per dolar AS.


Tekanan ini terjadi setelah penyedia indeks global MSCI menghapus enam saham Indonesia dari MSCI Global Standard Index dalam hasil tinjauan kuartalan atau quarterly review.

Meski demikian, pelaku pasar diminta untuk tetap tenang dan tidak terjebak aksi panic selling, mengingat penghapusan saham dari indeks MSCI tidak selalu berarti adanya kerusakan fundamental emiten.

Hans Kwee, Co Founder PasarDana dan Praktisi Pasar Modal, menjelaskan bahwa deletion saham dari indeks MSCI lebih bersifat teknikal, terutama terkait metodologi bobot serta aspek likuiditas.

“Perlu dipahami bahwa penghapusan (deletion) sejumlah emiten dari indeks ini lebih bersifat teknikal terkait metodologi bobot dan likuiditas, bukan serta-merta mencerminkan kerusakan fundamental pada perusahaan tersebut,” ujarnya.

Baca Juga: Ini yang Terjadi Setelah MSCI Depak 6 Saham RI: Rupiah dan Pasar Saham RI Berdarah!

Selain itu, Hans menilai sebagian besar pelaku pasar, termasuk manajer investasi, sudah mengantisipasi potensi penghapusan saham tersebut sejak beberapa bulan terakhir.

Ia mengatakan, fund manager pasif yang mengikuti indeks MSCI biasanya akan memanfaatkan periode menjelang akhir bulan untuk melakukan penyesuaian portofolio.

“Fund manager pasif sebagian akan memanfaatkan periode terakhir di 29 Mei untuk melakukan rebalancing portofolionya mengikuti pengumuman MSCI,” kata Dr Hans.

Peluang Akumulasi Saham Saat Tekanan Jual Paksa

Di balik volatilitas jangka pendek yang terjadi, Hans melihat koreksi pasar akibat rebalancing indeks justru bisa menjadi peluang.

Menurutnya, tekanan jual yang muncul tidak sepenuhnya didorong oleh sentimen fundamental, melainkan tekanan jual paksa atau forced selling dari investor institusi yang harus menyesuaikan portofolio dengan indeks.

“Di balik volatilitas jangka pendek ini, justru terbuka peluang untuk melakukan akumulasi pada saham-saham blue chip dan sektor small cap yang harganya terkoreksi secara anomali akibat kepanikan dan tekanan jual paksa (forced selling) oleh fund manager pasif,” ungkapnya.

Tonton: Purbaya Buka Suara soal Rupiah Rp 17.500, Ini Langkah Darurat yang Disiapkan Menkeu

Transparansi Jadi Kunci Agar Indonesia Bisa Ikuti Jejak India

Hans menilai rebalancing MSCI seharusnya menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat struktur pasar agar semakin kredibel di mata investor global.

Ia menekankan transparansi menjadi faktor krusial bagi Indonesia untuk mengikuti jejak India yang berhasil pulih dan menjadi primadona pasar berkembang.

Dalam hal ini, peran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self Regulatory Organization (SRO) seperti BEI, KPEI, dan KSEI dinilai sangat penting untuk memperketat pengawasan kepemilikan serta transaksi afiliasi.

“Peran OJK dan SRO (BEI, KPEI, KSEI) sangat vital dalam memperketat pengawasan terhadap struktur kepemilikan dan transaksi pihak afiliasi guna memastikan pasar yang lebih adil,” jelasnya.

Ia menilai upaya SRO dalam mendorong keterbukaan informasi yang lebih real-time, serta langkah tegas OJK dalam memperkuat perlindungan investor minoritas, akan menjadi sinyal positif bagi lembaga pemeringkat global seperti MSCI.

Rebalancing Bisa Jadi Momentum “Pembersihan” Pasar

Hans mencontohkan India sebagai negara yang mampu bangkit dan menjadi primadona investor setelah memperbaiki regulasi pasar, termasuk menyelaraskan batas kepemilikan asing serta memperkuat basis investor domestik lewat digitalisasi investasi yang masif.

Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa penyesuaian indeks bukan sekadar tekanan sesaat, tetapi dapat menjadi momentum pembersihan menuju pasar yang lebih sehat dan kredibel.

“Langkah tersebut membuktikan bahwa periode penyesuaian indeks adalah momentum pembersihan untuk menciptakan pasar yang lebih kredibel,” katanya.

Bagi investor Indonesia, ia menyarankan momen koreksi teknikal ini dimanfaatkan untuk evaluasi portofolio secara objektif, bukan reaksi emosional.

Baca Juga: Tengok Harga Emas Antam Logam Mulia Hari Ini Rabu (13/5) Merosot Rp 20.000 Per Gram

Ia juga menilai pengumuman MSCI kali ini berpotensi menjadi titik balik pergerakan indeks.

“Pengumuman MSCI ini bisa jadi bottom dari koreksi IHSG sebelum kembali bangkit mengikuti fundamental perusahaan,” tutup Hans.

Ringkasan Dampak Rebalancing MSCI ke Pasar Keuangan Indonesia

Indikator Pergerakan Penyebab Utama Catatan
IHSG / saham di Jakarta Turun hingga 1,7% MSCI hapus 6 saham RI Sentuh level terendah sejak akhir April 2025
Rupiah Melemah ke Rp 17.535/US$ Tekanan pasar & sentimen global Rekor terlemah sepanjang masa
Saham yang dihapus MSCI Deletion Faktor teknikal (likuiditas & bobot) Tidak selalu mencerminkan fundamental
Aksi fund manager pasif Rebalancing portofolio Mengikuti indeks MSCI Periode krusial hingga 29 Mei 2026
Peluang investor ritel Akumulasi saat koreksi Forced selling & panic selling Fokus pada saham blue chip dan small cap sehat
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News