KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Metropolitan Land Tbk (
MTLA) tetap optimistis terhadap prospek bisnis properti hingga akhir 2026 di tengah kondisi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan tingginya tingkat suku bunga. Direktur MTLA Olivia Surodjo mengatakan, perusahaan terus mencermati perkembangan kondisi makroekonomi, termasuk pergerakan kurs rupiah dan suku bunga yang berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat serta sektor properti. Meski demikian, hingga saat ini MTLA belum melihat adanya penurunan permintaan yang signifikan terhadap produk residensial yang dipasarkan perusahaan.
“Hingga saat ini, permintaan terhadap produk residensial MTLA masih ada, terutama dari segmen end-user dan first home buyer yang memang menjadi mayoritas konsumen," ujar Olivia kepada Kontan.co.id, Kamis (18/6/2026). Di sisi lain, MTLA mengantisipasi kenaikan biaya konstruksi pada tahun ini sekitar 10% hingga 15%. Namun, sebagian proyek yang saat ini tengah berjalan masih menggunakan kontrak dengan harga pengikatan lama sehingga dampaknya belum sepenuhnya terasa.
Baca Juga: BI Rate Naik, Metropolitan Land (MTLA) Berharap Suku Bunga KPR Masih di Bawah 10% Menurut Olivia, material konstruksi yang perlu mendapatkan perhatian lebih adalah besi dan baja ringan karena mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan. MTLA juga terus memantau perkembangan harga material lainnya untuk mengantisipasi potensi kenaikan biaya proyek. Dalam menghadapi tekanan biaya tersebut, MTLA tetap menerapkan strategi penyesuaian harga secara selektif dan bertahap. “Penyesuaian harga merupakan bagian dari strategi bisnis yang dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan kondisi pasar, progres pengembangan kawasan, hingga nilai tambah yang diberikan kepada konsumen,” katanya. Terkait pengembangan proyek, MTLA masih fokus menyelesaikan berbagai rencana pengembangan yang telah berjalan. Namun demikian, perusahaan menerapkan pendekatan yang lebih hati-hati dengan menetapkan skala prioritas di tengah dinamika ekonomi global saat ini. Dari sisi pemasaran, hingga Mei 2026 MTLA membukukan marketing sales sebesar Rp 823 miliar yang berasal dari penjualan pra-penjualan (pre-sales) dan pendapatan berulang (recurring revenue). Realisasi tersebut setara sekitar 41% dari target tahunan yang dipatok sekitar Rp 2 triliun.
Untuk menjaga penjualan dan profitabilitas di tengah tekanan suku bunga, kurs, dan daya beli masyarakat, MTLA menjalankan program promosi Belanja Properti yang berlaku di seluruh proyek residensial perusahaan, khususnya untuk rumah siap huni.
Program tersebut memanfaatkan unit-unit yang biaya konstruksinya masih menggunakan harga lama sehingga dinilai lebih kompetitif. Selain itu, konsumen juga dapat memanfaatkan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) serta melakukan proses KPR sebelum terjadi potensi kenaikan bunga kredit. Ke depan, MTLA tetap berupaya mencapai target kinerja yang telah ditetapkan meski kondisi ekonomi belum sepenuhnya kondusif. “Prospek sektor properti semester II masih ada peluang untuk rumah yang ditempati sendiri/non-investasi, didukung insentif PPN DTP,” tandasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News