MTN Caplok IHS, Tebus Menara US$ 6,2 Miliar



KONTAN.CO.ID - JOHANNESBURG. MTN Group resmi mengambil alih penuh IHS Holding dengan membeli sekitar 75% saham yang belum dimilikinya. Nilai transaksi menara telekomunikasi ini mencapai sekitar US$ 6,2 miliar.

Reuters (18/2) melaporkan, dewan direksi IHS Towers menerima penawaran tunai US$ 8,50 per saham. Jika tuntas, MTN akan menggenggam 100% saham IHS sekaligus membawa perusahaan itu keluar dari bursa New York Stock Exchange (NYSE).

Langkah ini menandai perubahan strategi besar. Selama bertahun-tahun, MTN memisahkan aset menara untuk memperkuat neraca dan fokus pada bisnis inti. Kini, ketika infrastruktur digital menjadi tulang punggung pertumbuhan data di Afrika, MTN justru menarik kembali aset tersebut ke dalam kendali penuh.


Secara struktur, pembelian sisa saham senilai sekitar US$ 2,2 miliar akan dibiayai dari kas IHS sekitar US$ 1,1 miliar, ditambah likuiditas dan utang MTN. Artinya, transaksi ini tidak memerlukan penerbitan saham baru, tetapi membuka ruang kenaikan leverage jangka pendek.

MTN saat ini memegang sekitar 24,7% saham IHS. Melalui skema merger tunai, perusahaan akan mengakuisisi seluruh saham beredar yang belum dimilikinya dan menjadikan IHS sebagai perusahaan tertutup.

Baca Juga: Beban Hukum Bayer Mereda? US$ 7,25 Miliar Disiapkan Akhiri Sengketa!

Dari sisi strategis, reintegrasi menara memungkinkan MTN menginternalisasi margin yang selama ini dibayarkan kepada IHS. Selain itu, potensi pendapatan tambahan dari penyewa pihak ketiga serta kepastian biaya jangka panjang menjadi daya tarik utama. Dengan hampir 29.000 menara di Afrika, IHS merupakan salah satu operator menara terbesar di dunia dan beroperasi di lima pasar utama MTN.

Presiden dan CEO MTN Ralph Mupita menyebutkan, transaksi ini sebagai langkah krusial untuk memperkuat posisi strategis dan keuangan grup di tengah meningkatnya kebutuhan infrastruktur digital di Afrika.

Di sisi lain, Ketua dan CEO HIS Sam Darwish menilai, aksi ini memperdalam kemitraan jangka panjang sekaligus menggabungkan operator seluler terbesar Afrika dengan salah satu platform infrastruktur digital terbesar di benua tersebut.

Bagi pemegang saham IHS, harga US$ 8,50 per saham mencerminkan premi sekitar 9,7% dari rata-rata harga tertimbang 30 hari sebelum pengumuman. Investor lama seperti Wendel telah menyatakan dukungan dan akan memperoleh likuiditas penuh saat transaksi ditutup. Dukungan awal yang telah dikantongi mencapai sekitar 40% dari ambang minimal dua pertiga suara yang dibutuhkan.

Meski demikian, transaksi masih menunggu persetujuan pemegang saham dan regulator di sejumlah negara. Jika lolos, langkah ini bukan sekadar aksi korporasi, tetapi sinyal bahwa penguasaan infrastruktur digital kembali dipandang sebagai aset strategis bukan lagi sekadar sumber dana segar.

Baca Juga: Bank Sentral Selandia Baru (RBNZ) Tahan Suku Bunga di 2,25%

Selanjutnya: Strategi Spindo (ISSP) Jaga Pertumbuhan Kinerja Pasca Cetak Rekor Laba pada 2025

Menarik Dibaca: Provinsi Ini Hujan Amat Lebat, Cek Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (19/2)

TAG: